Memaknai Hari

Beberapa waktu lalu sebelum subuh, tiba-tiba saja saya kepikir untuk membuat istilah-istilah untuk setiap hari. Walau agak telat, anggaplah ini sebagai salah satu resolusi di tahun 2012 ini.

Berikut nama-nama hariku:

Senin : hari kesehatan (health day)
Selasa : hari kekayaan (wealth day)
Rabu : hari keberuntungan (lucky day)
Kamis : hari persahabatan (friendship day)
Jumat : hari keberkahan (blessing day)
Sabtu & Minggu: hari kebahagiaan (happiness day)

Memang, hal di atas kelihatannya adalah hanya hal sepele namunternyata sangat penting bagi kita untuk mencoba memaknai setiap hari yang kita lewati dalam framework yang positif. Ini bukan hanya slogan. Dan juga bukan bertujuan untuk mensakralkan hari-hari tertentu sehinga mengarah kepada mitos atau kemusyrikan.

Pernah nggak, kita mendengar curhat seseorang seperti ini: “Wah hari ini sial banget nih saya. Dari pagi istri udah ngomel-ngomel di rumah, terus anak-anak juga pada susah diatur lagi, dibangunin susah, disuruh ke sekolah susah. Ehh..sampe kantor saya juga dapat teguran dari atasan, katanya laporan yang saya kirim kemarin banyak yang salah.. wah, benar-benar hari sial nih, sudah jatuh ketimpa tangga lagi.”

Kondisi di atas sebenarnya mungkin hal yang lazim kita rasakan. Namun si ‘curhater’ (sang pencurhat maksudnya) memaknai semua kejadian yg dia rasakan di hari itu sebagai sebuah hal yg negatif (kesialan).

Coba kalau kita ubah statement-nya menjadi sbb: “Alhamdulillah nih, hari ini saya banyak dapat pelajaran berguna sejak pagi. Istri banyak memberi masukan-masukan dan perilaku anak-anak membuat saya berfikir untuk mencari metode-metode baru dalam mendidik mereka. Sudah gitu, atasan di kantor juga ngajarin saya cara buat laporan yang baik..wow pokoknya it’s a wonderful day!”

Gimana? Beda kan? Kondisi yang sama tetapi dimaknai dengan cara yang berbeda. Sesungguhnya setiap kejadian merupakan objek yang netral. Kemampuan kita dalam memaknai kejadian tersebutlah yang membuatnya terasa berbeda beda.

Salam Memaknai Kehidupan.

Nasrul Chair
www.nasrulchair.com

Kemandirian Dalam Bekerja

Pernahkah kita baca iklan lowongan pekerjaan baik di media cetak atau media elektronik? Bila iya, coba perhatikan iklan lowongan dibawah:

Qualifications:

1. Graduate of any 4-year business related course

2. Analytical, able to negotiate with counterparty banks

3. Excellent oral and written communication skills

4. Willing to extend beyond office hours

5. Can work under minimum supervision

Coba kita perhatikan persyaratan nomor 5, apa maksudnya? Secara bahasa kita bisa artikan sebagai “mampu bekerja dengan tingkat supervisi yang minimal”. Lalu what does it mean?

Dalam pengertian yang lebih luas, hal itu bisa diartikan bahwa dalam bekerja, ia mampu mengorganisir sendiri pekerjaannya dengan baik sesuai target yang diharapkan tanpa harus diberikan pengarahan secara mendetil oleh atasan. Dengan kata lain, hal tersebut menyangkut masalah kemandirian.

Kemandirian dalam bekerja ternyata merupakan hal yang sangat sangat penting. Walaupun tidak disebutkan didalam kualifikasi secara explisit, hal tsb mutlak menjadi persyaratan kerja dimanapun kita berada.

Kemandirian pasti terkait dengan kedewasaan atau tingkat kematangan seseorang (maturity) dalam bekerja. Semakin dewasa dan semakin tinggi posisi, orang seharusnya semakin mandiri dalam bekerja. Namun demikian kedewasaan/kematangan seseorang belum tentu berbanding lurus dengan usia. Kadangkala, orang yang masih relatif muda sudah terbiasa mandiri dan sebaliknya orang yang secara umur sudah lebih tua justru berperilaku sebaliknya.

Oh kalau gitu, faktor apa saja yg bisa membuat orang mampu bekerja secara mandiri. Ada beberapa kemungkinan

1. Faktor Kesadaran

Faktor kesadaran akan peran dan tanggung jawab thd pekerjaan memegang peran yg sangat penting. Dalam kondisi tertentu, seringkali kita tidak dibekali sistem kerja yg cukup detil atau memang berada dalam sebuah perusahaan baru yg belum memiliki sistem kerja yg memadai. Namun, dengan memiliki kesadaran ini, kita akan mencoba memaksimalkan potensi demi mewujudkan peran dan tanggungjawab tersebut. Seringkali kita harus berinisiatif terhadap hal-hal yg belum diatur dalam perusahaan. Bahkan kita rela juga  membantu bidang2 lain diluar bidang pekerjaan utama kita.

2. Faktor Sistem.

Dalam perusahaan yg sudah tersistem dg baik, apalagi perusahaan2 multinasional, semua hal telah terjabarkan dalam sistem kerja dan job desc seseorang baik melalui prosedur kerja,  formulir-formulir manual ataupun melalui sistem aplikasi perusahaan. Dalam kondisi ini, semua orang secara otomatis harus patuh menjalani sistem yg sudah ada di perusahaan tsb dan bekerja secara mandiri sesuai ruang lingkup tugasnya.

3. Faktor  Atasan

Seringkali orang “terpaksa” mandiri karena memiliki atasan yang banyak memberikan kebebasan kepada bawahannya. Hal ini mungkin karena rasa percaya yg besar thd bawahan atau bisa juga karena atasan tidak mau terlibat pada urusan-urusan yang terlalu mendetil. Terlepas dari segala plus minusnya, faktor ini juga bisa menjadi pendorong seseorang menjadi mandiri.

Dalam konteks yang lebih luas, kemandirian juga bisa didorong oleh faktor keluarga dan lingkungan. Semakin didikte secara berlebihan, orang cenderung menjadi tidak mandiri. Sebaliknya semakin diberikan kebebasan  yg disertai penekanan akan rasa tanggungjawab, justru akan semakin mandiri.

Salam kemandirian.

Nasrul Chair

Selai Kacang

Artikel diambil dari http://nasrulchair.com/?p=996

Budi dan Jimmy (bukan nama sebenarnya) adalah dua sahabat yang sangat akrab sejak kecil dan saat ini mereka bekerja di tempat yg sama. Budi penghasilannya masih pas pasan sedangkan Jimmy sudah lebih mapan secara ekonomi.

Suatu hari mereka berdua makan siang bersama di kantin kantornya. Jimmy memesan bakmi sedangkan Budi ternyata membawa bekal makanan sendiri dari rumah yg berisi sebuah roti dg selai kacang. Maklum, penghasilannya masih pas pasan shg tdk mencukupi kalau jajan di kantin tsb.

Hari berikutnya mereka juga makan bareng dan kali ini Jimmy memesan somay sementara Budi masih jg membawa bekal makanannya sendiri. Setelah dibuka ternyata isinya sama yaitu roti dan selai kacang.

Hari berikutnya bahkan beberapa hari setelah itupun mereka juga terus makan bareng. Pemandangannyapun sama. Jimmy selalu pesan makanan yg berbeda beda sementara Budi konsisten dengan selai kacangnya.

Penasaran dg itu, Jimmy bertanya kepada Budi “Bud, kenapa setiap hari makannya roti dg selai kacang terus. Apa ngk bisa diganti makanan lain, selai coklat ke, selai strawberry ke atau lainnya. Apakah istrimu ngk bs buat makanan lain selain roti dan selai kacang?” Dengan senyum khasnya Budi menjawab “bukan, bukan istriku yg buat tapi sebenarnya aku sendiri yg buat”

Pelajaran yg bisa kita dapat dari kisah singkat diatas adalah ternyata banyak orang menginginkan perubahan pada dirinya, entah perubahan karir, kenaikan penghasilan, keharmonisan keluarga, pertumbuhan bisnis, dsb tapi sebenarnya dia melakukan tindakan yg sama terus sepanjang waktu secara konsisten. Yang dilakukannya sebenarnya relatif itu itu saja. Bahkan dia sering mengeluhkan keadaan yg dialaminya dan berharap perubahan itu datang dengan sendirinya.

Dia mungkin sebenarnya menginginkan selai yg lain spt strawberry, coklat, nanas, dsb tapi yang dilakukannya selalu membuat selai kacang. Makanya jadilah selai kacang terus. Dan itu dilakukannya secara konsisten dari waktu ke waktu. Dia tidak melakukan perubahan apapun dalam tindakannya.

Jadi rubahlah tindakan kita menuju apa yg kita cita citakan.

Salam perubahan

Nasrul Chair

“Dikutip dari cerita motivator muda Bong Chandra dalam Bong Chandra School of Billionaire Preview

Arti sebuah perjuangan

Ada banyak kenikmatan hidup yang baru bisa kita rasakan setelah kita melewatinya melalui sebuah proses perjuangan. Sama halnya ketika kita baru bisa merasakan nikmatnya sehat setelah merasakan suatu kepayahan/sakit.

Sebagai contoh beberapa waktu lalu. Saya berkesempatan menjadi panitia yang membantu pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di masjid komplek dekat rumah.

Seperti tahun tahun sebelumnya, saya memposisikan diri membantu memotong daging menjadi ukuran kecil kecil agar bisa ditimbang sebelum dibungkus oleh panitia yg lain. Beberapa warga dan pengurus masjid juga ikut terlibat dalam even tahunan tersebut.

Pelaksanaan pemotongan dimulai pukul 8 pagi dan baru selesai sekitar pukul 5 sore. Nyaris hampir setengahharian. Bagi kita yg tidak terbiasa, memotong daging dalam jumlah sangat banyak (11 ekor sapi dan puluhan ekor kambing), bukanlah perkara mudah. Tahun2 sebelumnya, beberapa panitia sempat mengeluhkan sakit/nyeri pada tangannya atau pinggang dan punggungnya ketika keesokan harinya Bahkan ada juga yg sampai meliburkan diri ke kantor.

Lalu apa yang didapat oleh mereka? Mungkin mereka berhak membawa pulang satu atau dua bungkus daging. Kalau dilihat dari nilainya, memang tidaklah seberapa. Mereka hanya perlu beberapa puluh ribu rupiah utk membelinya di pasar pasar dan tidak perlu berjibaku dari pagi sampai petang. Tapi arti perjuangannyalah yg membuat bungkusan daging tsb menjadi istimewa.

Mendapatkan sesuatu dengan mudah sangat berbeda artinya dengan bila melalui suatu proses perjuangan. Begitu pula jabatan, rumah, kendaraan, dan aset yg kita miliki. Akan sangat berbeda nilainya bila diperoleh dengan cucuran keringat dan pengorbanan sendiri bukan melalui pemberian dari orang tua atau pihak lain.

Sesuap nasi dengan lauk ala kadarnya yg diperoleh seorang tukang becak setelah mengayuh seharian mungkin jauh dirasakan lebih nikmat dibandingkan hamparan makanan di hotel mewah berbintang yg sering kita nikmati.

Itulah sebabnya, Neno Warisman dan banyak pakar pendidikan menyarankan agar kita tidak selalu memenuhi keinginan anak anak kita tanpa melalui suatu proses perjuangan. Mereka sebaiknya dilatih untuk berbuat sesuatu terlebih dahulu, walaupun hal hal yang relatif sederhana, sebelum mendapatkan tuntutannya.

Salam perjuangan
Nasrul Chair

Cari solusi

Terkadang pekerjaan kita sangat tergantung dengan hasil kerja orang lain.
Keberhasilan kita juga ditentukan oleh keberhasilan orang lain.

Dalam situasi yang tidak ideal, bisa jadi, orang orang disekitar pekerjaan kita tidak mampu bekerja semestinya sehingga pada akhirnya “merepotkan” pekerjaan kita juga.

Target yang tertunda dan hasil yang tidak memuaskan mungkin disebabkan oleh pihak lain tersebut. Pihak lain disini bisa datang dari sesama kolega di bagian yang sama, bawahan, atasan, kolega di bagian lain bahkan pimpinan tertinggi perusahaan..

Misalnya data yang terlambat atau data yang kurang mendetail dari suatu bagian akan menyebabkan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan pekerjaan kita menjadi sangat terbatas. Sementara target adalah target. Pekerjaan tetap harus selesai sesuai datelinenya.

Dalam kondisi lain, tidak adanya arahan yang jelas dari pimpinan, tidak adanya pembagian tugas yang jelas dsb dsb, juga bisa menyebabkan kebingungan2 yg pada gilirannya akan menghambat pencapaian kinerja yang optimal.

Dalam kondisi seperti ini, menyalahkan pihak lain semata mata bukanlah hal yang bijak. Dalam hal ini justru kita musti berperan aktif dan mengambil inisiatif untuk memecahkan permasalahan yang ada dan mencari solusinya walaupun terkadang melewati batas “job desc” kita. Karena apabila dibiarkan saja, bukan tidak mungkin, permasalahan yang sama akan sering terjadi lagi dimasa yang akan datang. Lebih baik kita lelah diawal untuk membereskan masalah ini daripada membiarkannya terjadi terus di masa masa yang akan datang.

Inisiatif mencari solusi ini harus senantiasa kita pupuk dalam diri kita sehingga ia benar benar menjadi karakter yang inheren dalam sikap kita.

Mungkin kita jadi akan lebih capek karena mengurusi hal hal yang sebenarnya bukan urusan kita. Tapi selama semangatnya adalah solusi, ini pasti akan sangat diapresiasi secara positif oleh siapapun.

Prinsip sederhana yang perlu kita pegang adalah bahwa tidak ada satu masalahpun di muka bumi ini kecuali sudah tersedia solusinya. Tinggal diperlukan tekad yang kuat untuk mewujudkan solusi tersebut.

Salam solusi

Nasrul Chair

Intelektualisme dan Pesimisme

Dalam sebuah rapat, peserta berdiskusi tentang rencana2 kerja untuk sebuah acara yang sebelumnya telah disepakati bersama. Pro dan kontra mulai terjadi ketika isu yang paling krusial, yaitu masalah biaya/pendanaan, dibahas.

Hampir sebagian besar waktu terkuras untuk membahas masalah ini. Waktu yang mepet, momentum yang kurang tepat, sasaran yang terlalu meluas, dsb adalah beberapa argumentasi yg menjadi sentral penolakan dari beberapa peserta rapat tersebut. Kalimat bernada pesimis mulai ramai ketika semua peserta diminta partisipasi dlm hal pencarian dana. Dengan keterbatasan2 kondisi yang ada, intinya mereka merasa ragu ragu dan tidak yakin bahwa dana yang dibudgetkan akan terwujud.

Ditengah perdebatan tersebut, ternyata ada saja peserta yang masih tetap optimis bisa mencapai target yg dibebankan kepadanya. Ia kemudian mengambil selembar kertas dan menuliskan daftar target/sasaran yang akan dituju. Daftar tersebut menjadi semacam rencana kerja baginya. Kontan saja, hal ini menimbulkan aplause dari sebagian besar peserta rapat. Apalagi pernyataan bernada optimis tersebut justru datang dari seseorang, yang secara penampilan, sangat sederhana dan nampak kalah intelek dibanding peserta lain yang rata2 orang kantoran atau pernah jadi orang kantoran.

Intelektualisme memang biasanya erat kaitannya dengan rasionalitas dan penggunaan nalar dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Orang yang cenderung intelek dan tidak diimbangi dengan kecerdasan lainnya seperti kecerdasan sosial dan spiritual, cenderung selalu menggunakan kalkulasi2 yang berdasar pada logika semata.

Dalam kondisi ini, setiap kendala dan keterbatasan2 yang ada akan dianggapnya sebagai justifikasi/alasan untuk tidak bisa berbuat secara optimal sehingga tidak dapat mencapai hasil yang diharapkan. Walaupun sebenarnya ia belum mencobanya. Ia nampak ingin terkesan lebih “realistis” padahal aslinya mungkin pesimis.

Keadaan ekonomi yang sulit, perekonomian global yang diambang kebangkrutan, inflasi yang tinggi, penegakan hukum yang carut marut, tingkat korupsi yang merajalela di negerinya dan hal hal negatif lainnya seakan memperparah persepsinya dan pada gilirannya akan menambah rasa takut, was was, khawatir, apatis, pesimis dan sebagainya. Padahal sebagian mereka justru adalah orang2 dengan strata sosial yg cukup baik dan tergolong orang2 yang berpendidikan tinggi.

Rasa khawatir yang terlalu tinggi dalam hal rejeki misalnya, membuat mereka rela menghalalkan segala cara demi mempertahankan posisinya. Dan mereka mau melakukan apa saja asal atasannya senang.

Beberapa hari lalu, sebuah stasiun tv menayangkan ulang program Kick Andy yang bertemakan “ketika hati bicara”. Dalam tayangan tersebut, narasumbernya adalah orang2 yang merelakan diri membantu orang lain walaupun ia sebenarnya dalam kondisi yang juga sangat membutuhkan pertolongan. Narasumber tsb adalah juga orang2 yg pernah masuk dalam tayangan sebuah program reality show “Minta Tolooong”.

Dalam sebuah tayangan video, seorang laki-laki yang cacat kakinya bersedia membantu seorang ibu utk mengantar sebuah paket makanan. Ibu ini terpaksa minta bantuannya karena ia harus segera pulang kampung karena anaknya dikabarkan sakit. Setelah mencari kesana kesini, mencoba meminta kepada beberapa orang yang ditemuinya, ternyata hanya laki laki cacat inilah yang bersedia membantu.

Dengan menggunakan dua tongkat, laki laki cacat ini kemudian naik turun angkutan kota lalu naik ojek menyusuri gang gang kecil untuk mencapai alamat tsb. Dan hal ini semuanya dilakukan dengan biayanya sendiri. Luarr biassa..Padahal saat itu, ia hanya memegang uang tak lebih dari tiga ribu rupiah. Karena sdh terlanjur memegang janji dengan si ibu tadi, ia rela pulang kerumah terlebih dahulu untuk meminta ongkos pada istrinya. Subhanallah.

Narasumber lain, katakanlah pak Somad, adalah seorang supir angkot. Ia sedang termenung dipinggir jalan karena memikirkan biaya anaknya yg terkena kanker ganas. Entah apa yang akan diperbuatnya. Tatapan matanya serasa kosong dan menerawang jauh entah kemana. Tiba tiba seorang nenek lalu mendekatinya dan menawarkan ikan asin hasil pulungannya untuk dibeli. Aslinya ikan asin tersebut pastilah tidak layak dibeli namun nenek ini sangat butuh uang tsb untuk membeli beras karena persediaan dirumah sdh habis.

Alhasil pak Somad bersedia membantu si nenek. Ia lalu mengajak si nenek ke sebuah toko dan membelanjakan uang dikantongnya untuk dibelikan beras 10 kg dan minuman untuk si nenek. Total belanjaanya sekitar Rp. 81.000 padahal saat itu ia hanya mengantongi uang tidak lebih dari Rp. 85.000.
Berarti uang yang tersisa dikantongnya hanya empat ribu rupiah.
Ia rela membantu si nenek walau sebenarnya ia juga sedang pusing memikirkan bantuan untuk anaknya. Sungguh mulia hati pak Somad ini.

Dalam tayangan lain, dengan alasan ingin membantu orang, seorang ibu yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga juga merelakan sebagian besar persediaan uangnya utk membeli sebuah piala bekas yg dijual seorang anak karena butuh untuk membeli beras keluarganya.

Dari wawancara dg ketiga narasumber diatas, nampak bahwa mereka punya keinginan kuat untuk membantu orang lain terlepas apapun kondisi yang menyelimutinya. Ketika ditanya sang host “kok bisa2nya bpk/ibu bantu mereka padahal ibu juga sedang kekurangan dan membutuhkan bantuan?” Jawabnya kurang lebih sama yaitu mereka hanya ingin membantu. Itu saja. Ada perasaan emphati terhadap penderitaan orang lain. Ketika ditanya bagaimana dengan nasib dirinya nanti, mereka justru mempasrahkan kepada Yang Maha Kuasa

Tayangan dan cerita diatas mungkin telah meruntuhkan kalkulasi kalkulasi logika yang mungkin ada dalam benak diri kita. Dalam kondisi sulit, mereka tetep bisa membantu dan tidak khawatir akan nasib dirinya. Ada nuansa kepasrahan yang tercermin dari muka muka mereka. Kecerdasan sosial dan spiritual mereka telah menampar logika logika kita yang merasa sebagai kaum intelektual yg terkadang hanya memikirkan dirinya sendiri.

“Inilah calon calon penghuni syurga” ujar saya kepada istri sesaat setelah menyaksikan acara tersebut.
Mereka tetep optimis dengan kehidupannya, pasrah kepadaNya dan selalu ingin membantu sesama.

Salam optimis selalu

Nasrul Chair

Intelektualisme dan Pesimisme

Dalam sebuah rapat, peserta berdiskusi tentang rencana2 kerja untuk sebuah acara yang sebelumnya telah disepakati bersama. Pro dan kontra mulai terjadi ketika isu yang paling krusial, yaitu masalah biaya/pendanaan, dibahas.

Hampir sebagian besar waktu terkuras untuk membahas masalah ini. Waktu yang mepet, momentum yang kurang tepat, sasaran yang terlalu meluas, dsb adalah beberapa argumentasi yg menjadi sentral penolakan dari beberapa peserta rapat tersebut. Kalimat bernada pesimis mulai ramai ketika semua peserta diminta partisipasi dlm hal pencarian dana. Dengan keterbatasan2 kondisi yang ada, intinya mereka merasa ragu ragu dan tidak yakin bahwa dana yang dibudgetkan akan terwujud.

Ditengah perdebatan tersebut, ternyata ada saja peserta yang masih tetap optimis bisa mencapai target yg dibebankan kepadanya. Ia kemudian mengambil selembar kertas dan menuliskan daftar target/sasaran yang akan dituju. Daftar tersebut menjadi semacam rencana kerja baginya. Kontan saja, hal ini menimbulkan aplause dari sebagian besar peserta rapat. Apalagi pernyataan bernada optimis tersebut justru datang dari seseorang, yang secara penampilan, sangat sederhana dan nampak kalah intelek dibanding peserta lain yang rata2 orang kantoran atau pernah jadi orang kantoran.

Intelektualisme memang biasanya erat kaitannya dengan rasionalitas dan penggunaan nalar dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Orang yang cenderung intelek dan tidak diimbangi dengan kecerdasan lainnya seperti kecerdasan sosial dan spiritual, cenderung selalu menggunakan kalkulasi2 yang berdasar pada logika semata.

Dalam kondisi ini, setiap kendala dan keterbatasan2 yang ada akan dianggapnya sebagai justifikasi/alasan untuk tidak bisa berbuat secara optimal sehingga tidak dapat mencapai hasil yang diharapkan. Walaupun sebenarnya ia belum mencobanya. Ia nampak ingin terkesan lebih “realistis” padahal aslinya mungkin pesimis.

Keadaan ekonomi yang sulit, perekonomian global yang diambang kebangkrutan, inflasi yang tinggi, penegakan hukum yang carut marut, tingkat korupsi yang merajalela di negerinya dan hal hal negatif lainnya seakan memperparah persepsinya dan pada gilirannya akan menambah rasa takut, was was, khawatir, apatis, pesimis dan sebagainya. Padahal sebagian mereka justru adalah orang2 dengan strata sosial yg cukup baik dan tergolong orang2 yang berpendidikan tinggi.

Rasa khawatir yang terlalu tinggi dalam hal rejeki misalnya, membuat mereka rela menghalalkan segala cara demi mempertahankan posisinya. Dan mereka mau melakukan apa saja asal atasannya senang.

Beberapa hari lalu, sebuah stasiun tv menayangkan ulang program Kick Andy yang bertemakan “ketika hati bicara”. Dalam tayangan tersebut, narasumbernya adalah orang2 yang merelakan diri membantu orang lain walaupun ia sebenarnya dalam kondisi yang juga sangat membutuhkan pertolongan. Narasumber tsb adalah juga orang2 yg pernah masuk dalam tayangan sebuah program reality show “Minta Tolooong”.

Dalam sebuah tayangan video, seorang laki-laki yang cacat kakinya bersedia membantu seorang ibu utk mengantar sebuah paket makanan. Ibu ini terpaksa minta bantuannya karena ia harus segera pulang kampung karena anaknya dikabarkan sakit. Setelah mencari kesana kesini, mencoba meminta kepada beberapa orang yang ditemuinya, ternyata hanya laki laki cacat inilah yang bersedia membantu.

Dengan menggunakan dua tongkat, laki laki cacat ini kemudian naik turun angkutan kota lalu naik ojek menyusuri gang gang kecil untuk mencapai alamat tsb. Dan hal ini semuanya dilakukan dengan biayanya sendiri. Luarr biassa..Padahal saat itu, ia hanya memegang uang tak lebih dari tiga ribu rupiah. Karena sdh terlanjur memegang janji dengan si ibu tadi, ia rela pulang kerumah terlebih dahulu untuk meminta ongkos pada istrinya. Subhanallah.

Narasumber lain, katakanlah pak Somad, adalah seorang supir angkot. Ia sedang termenung dipinggir jalan karena memikirkan biaya anaknya yg terkena kanker ganas. Entah apa yang akan diperbuatnya. Tatapan matanya serasa kosong dan menerawang jauh entah kemana. Tiba tiba seorang nenek lalu mendekatinya dan menawarkan ikan asin hasil pulungannya untuk dibeli. Aslinya ikan asin tersebut pastilah tidak layak dibeli namun nenek ini sangat butuh uang tsb untuk membeli beras karena persediaan dirumah sdh habis.

Alhasil pak Somad bersedia membantu si nenek. Ia lalu mengajak si nenek ke sebuah toko dan membelanjakan uang dikantongnya untuk dibelikan beras 10 kg dan minuman untuk si nenek. Total belanjaanya sekitar Rp. 81.000 padahal saat itu ia hanya mengantongi uang tidak lebih dari Rp. 85.000.
Berarti uang yang tersisa dikantongnya hanya empat ribu rupiah.
Ia rela membantu si nenek walau sebenarnya ia juga sedang pusing memikirkan bantuan untuk anaknya. Sungguh mulia hati pak Somad ini.

Dalam tayangan lain, dengan alasan ingin membantu orang, seorang ibu yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga juga merelakan sebagian besar persediaan uangnya utk membeli sebuah piala bekas yg dijual seorang anak karena butuh untuk membeli beras keluarganya.

Dari wawancara dg ketiga narasumber diatas, nampak bahwa mereka punya keinginan kuat untuk membantu orang lain terlepas apapun kondisi yang menyelimutinya. Ketika ditanya sang host “kok bisa2nya bpk/ibu bantu mereka padahal ibu juga sedang kekurangan dan membutuhkan bantuan?” Jawabnya kurang lebih sama yaitu mereka hanya ingin membantu. Itu saja. Ada perasaan emphati terhadap penderitaan orang lain. Ketika ditanya bagaimana dengan nasib dirinya nanti, mereka justru mempasrahkan kepada Yang Maha Kuasa

Tayangan dan cerita diatas mungkin telah meruntuhkan kalkulasi kalkulasi logika yang mungkin ada dalam benak diri kita. Dalam kondisi sulit, mereka tetep bisa membantu dan tidak khawatir akan nasib dirinya. Ada nuansa kepasrahan yang tercermin dari muka muka mereka. Kecerdasan sosial dan spiritual mereka telah menampar logika logika kita yang merasa sebagai kaum intelektual yg terkadang hanya memikirkan dirinya sendiri.

“Inilah calon calon penghuni syurga” ujar saya kepada istri sesaat setelah menyaksikan acara tersebut.
Mereka tetep optimis dengan kehidupannya, pasrah kepadaNya dan selalu ingin membantu sesama.

Salam optimis selalu

Nasrul Chair