JAKARTA, JEDDAH DAN MEKAH, JUMAT 20-11-09

Terbangun jam 1 pagi. Mencoba tidur lagi tapi tidak bisa karena sudah terbayang-bayang dipikiran tentang suasana di sana. Memang benar kata sebagian orang, ibadah haji ini seperti orang mau nikah untuk pertama kalinya. Rasa senang, haru dan deg-degan selalu menyelimuti hati ini. Ya Allah mudahkanlah dan lancarkanlah segala urusan kami baik didalam perjalanan, selama disana dan sewaktu kembali ke tanah air.

Persiapan ruhani dg shalat tahajud dan witir. Dilanjutkan dg sarapan.

Menu hidangan pagi: nasi, sayur jagung, ayam pop, dan krupuk sudah siap menanti. Tak lupa teh manis membuat pagi yg dingin menjadi lebih hangat.

“Bi, fira udh shalat tahajud. Abi fira doain agar selamat d jln&lcr d sn nya. Amien” sebuah sms yg menyejukkan hati yg saya terima jam 02.18 dini hari. Sms yg sama juga diterima oleh istriku dari fira, anak sulung kami. Istri saya menunjukan sms yg tertulis “Mi, hati2 ya di sn, doain fira, fira juga doain umi biar selamat&sehat selalu, umi jgn jauh2 dr abi ya. Dah”. Alangkah perhatiannya anakku yg satu ini. Mudah2an ini sebuah jalan agar anak2ku menjadi anak2 yg sholeh dan sholehah.

Menuju bis no.9 diiringi dg lantunan kalimat talbiyah. LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK. LABBAIK LA SYARIKALA LABBAIK. INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULK LAA SYARIKALAK.

Jam di HP saya menunjukan pukul 03.36. Bis mulai berangkat menuju bandara. Bismillahi majreeha wa mursaaha inna robbi la ghafurur rahiim.

Tiba dibandara sekitar jam 4.30. Setelah tas semua dicek, langsung shalat subuh di bandara dan menunggu di ruang tunggu terminal haji.

Take off jam 8.45 dan Alhamdulillah tiba di jeddah jam 14.15 waktu setempat atau jam 18.15 WIB.

Antrian cukup lama di bandara king abdul aziz di pintu imigrasi. Setelah itu, mandi ihram, memakai pakaian ihram, sholat sunnah ihram dan niat umroh. Labbaik Allahumma Umratan. Ya Allah saya niat umrah karena Allah SWT.

Karena belum terbiasa, rasanya cukup risih pakai pakaian ihram tanpa pakaian dalam sama sekali.

“Pa, nanti kalau sdh selesai mandi, tunggu disini aja ya, nanti saya pandu memakai kain ihramnya” saya mencoba mengingatkan si Abah saya karena khawatir beliau lupa. Maklum namanya juga orang tua. Usianya saat ini menginjak 76 tahun tapi fisiknya Alhamdulillah masih sehat.

Selain bersama istri, saya juga berangkat bersama orang tua dari istri (bapak mertua). Kelakuannya yg kadang2 rada “unik” membuat semua anggota mewanti-wanti saya utk bersabar dan memaklumi sikap beliau. Saya hanya berujar “InsyaAllah, doakan ya”

Apa yg saya khawatirkan ternyata terjadi. Si Abah tidak ada ditempat yg disepakati. Begitu keluar ruangan mandi, saya menemukan beliau sedang memegang pakaian ihramnya sambil berpakaian sebagaimana biasanya.

“Abah dari mana? Di tradisi kampung istri saya Kuningan, kami biasa memanggil bapak mertua dengan panggilan Apa Sakur atau singkatnya Apa. Tapi dalam tulisan ini saya coba ganti menjadi Abah agar mudah dalam mencernanya. Kok ngk pakai pakaian ihram?”  Tanya saya. “Habis selesai shalat ashar” jawabnya. “Khan tadi shalat asharnya sdh dijamak dg dzuhur waktu di pesawat?” Saya terheran.

Beliau nampak bingung. Ternyata beliau ikut2an orang lain disana.

“Ya sudah, sekarang ayo saya bantu pakai pakaian ihramnya” kata saya. “Kok, celana dalamnya dibuka semua..malu atuh” si abah coba memprotes. Ya maklumlah, mungkin sewaktu manasik, beliau tdk terlalu menyimak dg baik.

Sekali lagi ini benar2 ujian buat kami utk membimbingnya. Ya Allah kuatkanlah keikhlasan dan kesabaran saya.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya bis mengantar kami ke pondokan yg berlokasi di al aziziyah syamaliah. Maktab 12 rumah no. 328. Saya dan abah dpt kamar 311 bersama 4 jamaah ulul albaab yg lain. Jadi satu kamar ada 6 orang. Sedangkan istri kamar 305.  Alhamdulillah gedungnya ada AC, lift dan kamar mandi yang layak.

Setelah itu kami istirahat sejenak utk persiapan berangkat umroh ke masjidil haram jam 2 dini hari.