Tag

, ,

Dalam keseharian kita, seringkali kita menemukan fenomena dimana orang bekerja sangat keras diluar kelaziman bahkan sampai “pontang panting” tidak karuan. Mereka sudah tidak perduli lagi dengan waktu. Catatan lembur, untuk karyawan kantor misalnya, sudah tidak bisa dihitung lagi. Jadwal meeting juga sangat padat bahkan sampai harus menemui klien/partner bisnis diluar jam kerja, bahkan diluar hari kerja. Bahkan tidak jarang, mereka juga terpaksa harus masuk disaat hari-hari besar. Waktu menjadi seolah olah sangat sempit sementara beban tugas terus semakin menumpuk dan permasalahan tidak selesai selesai. Begitu selesai permasalahan yang satu, muncul permasalahan yang lain. Begitu selesai target yang satu, muncul target yang lain seolah tanpa berkesudahan.

Implikasinya sangat kompleks dari mulai masalah pribadi, keluarga sampai pada masalah sosial. Dari sisi pribadi misalnya, faktor gangguan kesehatan seperti stress, darah tinggi bahkan stroke adalah hal yang kerap dijumpai akibat dari pola hidup yang “keluar” dari jalur fitrahnya disamping pola makan yang buruk tentunya. Umur muda bukan lagi jaminan untuk terhindar dari resiko penyakit-penyakit tersebut.

Dari sisi keluarga, waktu untuk berkumpul dengan istri dan anak-anak menjadi dikorbankan. Hubungan antar anggota keluarga menjadi kurang solid dan harmonis. Disamping itu kepedulian terhadap perkembangan anak-anak juga seolah-olah terabaikan. Bahkan tidak jarang, banyak keluarga yang hancur berantakan akibat masalah tersebut.

Secara sosial, mereka juga seringkali dipandang sebagai anggota masyarakat yang tidak mau bersosialisasi di lingkungannya. Terlalu sibuk untuk urusan sendiri menyebabkan kehilangan waktu untuk kumpul-kumpul atau bahkan untuk sekedar menegur dan mengucapkan ucapan selamat kepada tetangganya yang baru saja mendapat suka cita. Atau sekedar bertakziyah kepada sahabat dan kerabat yang berduka cita.

Sikap hidup yang tidak ideal tersebut muncul karena kita seringkali memiliki persepsi yang tidak proporsional terhadap lingkungan dimana kita berada, kepada atasan kita, kepada kantor tempat kita bekerja, atau bahkan kepada klien atau parter bisnis yang seharusnya dalam kendali kita. Kontrol kita serahkan sepenuhnya kepada pihak luar. Atau bisa dikatakan kita seringkali hanya menjadi sekedar objek bukannya sebagai subjek. Kita seringkali bukannya mengelola tapi dikelola, bukannya mengatur tapi diatur, bukannya memanage tapi dimanage. “Kalau bukan dari mereka, rezeki saya dari mana?” mereka berkilah. Karir adalah segala-galanya seolah-olah mereka merasa tidak akan mencapai sukses apabila tidak melakukan hal seperti tersebut diatas.

Setiap awal tahun atau akhir tahun, kita biasanya menciptakan dan mengembangkan target-target kerja tapi seringkali kita sendirilah yang “kelabakan” memenuhi target-target tersebut. Kita seperti dikendalikan oleh target-target yang kita buat sendiri yang kerap tidak rasional dan terkesan “mengada-ada”. Arvan Pradiansyah, seorang motivator, pembicara dan penulis buku “Life is beautiful” pernah mengangkat tema “Kejarlah daku maka kau kukejar” sebagai ilustrasi dimana hidup kita seolah-olah dikejar-kejar oleh target baik itu target pribadi, keluarga maupun target bisnis atau perusahaan. Dan target itu tidak pernah berhenti mengejar-ngejar kita sampai sampai rasa kebahagiaan itu menjadi lenyap dari hidup kita.

Tentunya disini saya tidak ingin mengatakan bahwa penetapan target itu buruk atau kerja keras itu tidak baik. Tapi yang ingin saya soroti adalah sikap kita terhadap lingkungan kita dan target-target itu. Selama kita masih bisa berjalan diatas fitrah kemanusiaan kita baik sebagai individu, keluarga dan masyarakat serta bisa menikmati target dan beban kerja yang kita miliki maka itu bukanlah menjadi persoalan. Menyusun skala prioritas adalah jawabannya.

Misalnya, apa yang akan kita katakan apabila ada rekan bisnis perusahaan kita meminta bertemu diluar jam kantor atau diluar hari kerja? Apakah akan kita setujui atau kita tolak. Tentunya ini sangat situasional karena tergantung dari kepentingan dan tingkat urgensinya. Apabila merupakan pertemuan biasa-biasa saja, bisakah kita mengatakan “Maaf, saya tidak bisa meeting pada jam tersebut, bagaimana kalau kita re-schedule ke pagi/siang saja dihari yang sama? Atau kita terpaksa mengatakan “Oke pak” padahal kita sudah janji untuk mengajari anak-anak dirumah karena sebentar lagi mereka menghadapi ujian/test di sekolahnya. Sekali lagi, ini sangat situasional sehingga kitalah yang bisa menilainya.

Pesan di akhir tulisan ini adalah “NIKMATILAH” apa yang telah dianugerahkan kepada kita. Keluarga, isteri, anak-anak, pekerjaan, atasan, kantor tempat kita bekerja, dsb. Bekerja dan berusahalah melakukan yang terbaik, Do the Bestpada setiap pekerjaan kita dan pasrahkanlah hasilnya kepada Yang Maha Kuasa. Karena Dialah Sang Pemberi Rejeki sesungguhnya, bukan atasan kita, bukan pekerjaan kita dan bukan perusahaan kita. Cintailah dan Nikmatilah apapun profesi dan pekerjaan kita, Cintai dan Nikmatilah anugerah Keluarga kita, dan tentunya Nikmatilah target-target kerja yang sudah ditetapkan. Kalau semuanya bisa dinikmati, insyaAllah hasilnya juga akan lebih baik.