MEKAH, AHAD 22-11-09

Shalat shubuh di masjid dekat pondokan, nama masjidnya tidak tahu karena tidak terpampang di depan masjid sebagaimana biasanya di Indonesia. Suasana cukup ramai, tapi Alhamdilillah masih dapat tempat didalam.

“Halal, halal, halal” kata seseorang yg sedang membawa beberapa gelas plastik dan menawarkan kepada jamaah masjid yg hendak pulang. Saya lihat ada kerumunan di dekat sebuah mobil bak terbuka yg diatasnya ada dua orang sedang sibuk melayani jamaah. Ohh..ternyata mereka sedang menawarkan minuman semacam teh susu dan sepotong roti tawar panjang kepada jamaah tsb. Dan itu halal alias gratis…mungkin ini sedekah dari yang bersangkutan, pikir saya.

Saya dan Abah mencoba mendekat dan akhirnya kami dpt merasakan nikmatnya teh susu hangat plus roti..mungkin karena lapar kali ya…maklum belum sarapan. Subhanallah, hebat sekali mereka mencari peluang pahala, pikir saya. Bayangkan saja, setiap subuh mereka menyajikan hal tsb untuk sekian banyak jamaah. Tong-tong besar yg berisi minuman sdh mereka siapkan. Mudah2an Allah menerima amal sholeh mereka. Amien.

Jam 10 pagi siap2 kembali ke Masjidil Haram. Dua bis telah tersedia. Kami diajak berziarah ke Ma’la yaitu kawasan kuburan yg digunakan untuk para jamaah haji yg meninggal disana. Kuburan hanya berupa tanah kosong yg diletakkan batu2 kecil diatasnya sebagai pertanda saja bahwa tanah ini adalah kuburan. Burung2 dara bermain, makan dan berterbangan diatasnya.

Menurut penjelasan pembimbing kami, di tempat tersebut juga ada kuburan Siti Khadijah, istri Rasulullah SAW. Maka kamipun berdoa untuk keselamatan semua penghuni kubur tersebut. Allahummaghfirlahum warhamhum wa’aafiihim wa’fu’anhum.

Perjalanan dilanjutkan ke arah masjidil haram dg berjalan kaki melewati dan berhenti sejenak di Masjid Jin dan Masjid Kucing (Al Hudaibiyah).

Azan dzuhur sdh berkumandang, kami bergegas mencari lokasi untuk shalat. Karena sudah terlalu padat, kami dapat di pelataran luar. Cukup panas memang, tapi Allah memberikan kekuatan dan keteduhan buat kami.

Setelah shalat, makan siang menjadi tujuan. Kami bergerak ke arah Baabus Salam dan mencari restoran makanan Indonesia disana. “A’ina thoam Indonisia” saya mencoba bertanya dengan bahasa arab pas pasan sambil menggerakan tangan saya ke arah mulut seperti orang makan dg harapan mereka dapat mengerti maksud saya. Sang petugas kebersihan yg saya tanya tersebut mengarahkan saya pada satu tempat yg tidak jauh, mungkin sekitar 50 meter dari lokasi kami. Namanya “Yasir Restaurant” Alhamdulillah akhirnya ketemu.

Namun kami menjadi bingung karena suasana penuh sekali baik oleh orang Indonesia maupun Pakistan, Bangladesh dsb. Kami coba naik ke lantai 2 dan pesan makanan disana. Untungnya ada orang Indonesia yg bekerja disana sehingga kami tdk terkendala masalah bahasa. Kami pesan 2 paket nasi ayam untuk bertiga. Porsinya banyak sekali, sehingga sebagian kami bungkus untuk makan sore/malam. “Jadi Berapa mas?” Tanya saya. “Nasi ayam 2 dan air minum 2 botol ditambah minuman kotak 2, total 30 riyal” jawabnya setelah menghitung dg cermat.

Ketika makanan tersedia, meja masih penuh jamaah lain. Jadi si Abah dan saya terpaksa memutuskan makan sambil berdiri. Mudah2an ini bukan dosa Ya Allah. Setelah selesai makan, seperti halnya kemarin, kami coba cari tempat di lantai 3 dg harapan tidak sepadat di lantai dasar. Kami thawaf disana sejak bada ashar sampai menjelang maghrib.

Pas azan maghrib kami baru 6 putaran lebih sedikit. Kami akhirnya shalat ditempat berhenti thawaf. Saking padatnya kami sampai kesulitan utk rukuk dan sujud. Orang2 penuh didepan, belakang dan samping kami. Ini mungkin ujian kesabaran buat kami.

Sebelum ashar, kami berkenalan dg 3 orang dari Nigeria. Mereka nampaknya senang sekali diskusi dg kita orang indonesia. Bahkan mereka sempat menawarkan diri memfoto saya di area masjid tersebut. Untung ngk ada askar (petugas) yg lewat, jadinya aman deh. Selesai shalat maghrib, kami lanjutkan thawaf menggenapi menjadi total 7 putaran. Bada isya, kumpul di markas Baabus Salaam dan pulang dg bis yg telah disediakan.