Tag

Shubuh yang yang indah pagi ini diwarnai dengan nuansa renungan yang sungguh menarik ketika saya mendapati seorang jamaah shubuh di masjid yang memakai baju kokonya secara terbalik. Sampai akhir shalat, yang bersangkutan nampaknya belum sadar akan apa yang terjadi padanya. Kejadian tsb pastinya akan dinilai sebagai sesuatu yang aneh terutama bagi jamaah yang kebetulan berposisi di belakang ybs.
Terbalik adalah sesuatu yang secara natural seharusnya menjadi keanehan di kehidupan kita. Namun saat ini banyak fenomena keterbalikan yang nampaknya sudah bukan lagi dianggap aneh oleh kita bahkan kadang2 malahan dianggap sebagai sesuatu inovasi baru dan bagian dari modernisasi. Fenomena seorang jamaah diatas adalah sebuah keterkecualian. Yang bersangkutan mungkin lupa atau tidak sadar karena diliputi oleh suasana keterburu-buruan karena azan atau bahkan iqomah sudah dikumandangkan. Maklum datang dan shalat subuh di masjid memang bukan merupakan perkara yg mudah bagi sebagian besar muslim di Indonesia.
Fenomena keterbalikan ini sejatinya menjadi hal yang menarik kita renungkan. Betapa banyak orang yang secara terbalik memahami apa yg halal dan haram, yg dibolehkan dan dilarang, hak dan kewajiban, dsb. Sebagai contoh, berapa banyak manusia yang menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang tidak perlu dan sia-sia seperti hang-out di jalan2, main gaple sampai larut malam, dsb sementara ybs tidak punya interest pada hal2 yg justru sangat penting misalnya kumpul dan bercengkrama dengan keluarga di rumah.
Contoh lain adalah ketika konser2 musik sangat banyak dipadati oleh audience bahkan harus sampai bayar dan berdesak-desakan sementara pengajian2 atau acara2 yg sejatinya memberikan pencerahan justru sepi peminat padahal sdh “diiming-imingi” konsumsi gratis oleh panitia.
Dalam hal makanan juga sering terjadi hal yang sama. Dengan judul “wisata kuliner” banyak orang yang hobi memakan apapun sesuatu yg dia suka, padahal jelas-jelas secara kesehatan sangat tidak layak misalnya karena mengandung kadar kolesterol yang tinggi. Enak nampaknya menjadi satu-satunya alasan atau ideologi bagi para pehobi makan tersebut padahal para pakar sudah banyak membahasnya baik di media cetak, elektronik atau dalam diskusi2 ilmiah lainnya. Dilain pihak, justru banyak orang yg tidak suka makan makanan yang sehat seperti sayur mayur dan buah2an misalnya. Alasannya mungkin sama dengan diatas, yaitu tidak enak atau sekedar tidak suka.
Renungan untuk kita adalah bahwa segala sesuatu seharusnya ditempatkan pada tempatnya untuk tujuan kebaikan baik jangka pendek ataupun jangka panjang. Fenomena keterbalikan sejatinya adalah sebuah kezaliman, karena menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya yg benar. Kezaliman dapat terhadap keluarga, tetangga, masyarakat, bangsa bahkan terhadap diri sendiri.
Wassalam
Nasrul Chair