MEKAH, KAMIS 26-11-09

Bermalam di Mudzalifah, di lokasi terbuka bersama sama dg sekitar tiga juta jamaah dari berbagai negara.

Tiba sekitar jam 10 atau 11 malam. Tidur sejenak setelah mengumpulkan batu-batuan kecil sebanyak minimal 70 butir utk lempar jumroh di Mina.

Jam 2 dini hari, bis mulai mengangkut jamaah ke Mina. Tenda2 sdh siap menanti. Alhamdulillah kondisi fisik tenda “lebih baik” dibandingkan sewaktu di Arafah  karena memang dibangun dg kerangka fondasi baja yg relatif permanen. Kamar mandi juga tersedia dalam jumlah banyak dan lumayan baik. Hal penting lainnya adalah masalah katering. Selama di Arafah  dan Mina, katering disediakan oleh pihak muasasah. Menurut kami sudah cukup baik dan menunya sangat terasa seperti di Indonesia. Minuman teh atau kopi yg dapat diseduh sendiri dg air hangat yg disediakan 24 jam juga menambah daftar kenikmatan disini.

Tidak ada kegiatan khusus selain lempar jumrah selama 4 hari di Mina sejak Jumat sampai dg Senin (10-13 Dzulhijah) di sana.

Waktu dimanfaatkan utk mendengarkan kultum singkat tentang fikih sehari hari dan ceramah seputar haji baik oleh pembimbing maupun ketua kloter dan ustadz yg mukim di Arab Saudi. Tilawah Qur’an juga jadi kegiatan “wajib” disini.

Bagi yang tidak dapat memaksimalkan waktu dengan baik, Mina terasa sangat luang, sampai sampai ada jamaah yg komentar bahwa kegiatan kami disini adalah tamatu (tangi ,mangan, turu) yg artinya bangun, makan, dan tidur.

Suasana yg kental dg silaturahim, saling membantu antara yg muda dg yg tua, yg kuat dg yg lemah selalu ditekankan utk menjaga keharmonisan selama disini.

Ada kisah menarik ketika ada jamaah mandiri dipersilakan bergabung di tenda yg sama dg jamaah kami. Kekisruhan kecil sempat terjadi dan suasana menjadi kurang nyaman karena ada perbedaan “kultur” antara kami dan mereka. Sifat egois dan mengagungkan jabatan masih sangat kental di salah satu jamaah mereka yg kebetulan masih aktif sbg pejabaat di lingkungan pengadilan negeri di wilayah Provinsi Banten. “Pejabat” tersebut memprotes masalah penempatannya di tenda. Sebuah sifat yg sebenarnya harus “ditanggalkan” disini. Oleh karena  itu ketua kloter menegaskan dg lantang “di sini tidak ada presiden, tdk ada pejabat, yang ada adalah semua hamba Allah SWT, Allahu Akbar”.

Suasana terasa kurang nyaman kalau hal ini dibiarkan berlarut larut. Oleh karena itu, kami sepakat memberikan dua blok tenda untuk mereka dan kita “pagari” dg kain penutup yg memang sdh tersedia. Maksudnya adalah agar jamaah kami tdk terkontaminasi dg kebiasaan2 yg kurang baik tsb.

Setiap kita pasti tidak akan respect pada orang yang selalu mengagungkan jabatan, kekayaan, paras muka, kekuatan fisik, dsb karena pada hakekatnya semua hal tsb adalah milik Allah SWT. Semua yang ada di dunia ini sifatnya fana, hanya Allahlah yang kekal dan abadi.