MEKAH, SELASA 08-12-09

Umroh sunnah kedua, miqot di Hudaibiyah. Lokasi cukup jauh sekitar 1 jam dari lokasi pondokan.

Diperjalanan dari Hudaibiyah menuju Masjidil Haram, mampir di peternakan unta untuk minum susu unta.

Menurut pembimbing, susu unta sangat baik bagi kesehatan terutama bagi pencernaan, untuk membunuh bakteri dan untuk stamina baik bagi laki laki dan perempuan.

Antrian sangat tidak beraturan, sehingga masing2 mencoba mendapat giliran pertama dan kadang terkesan “ngotot”. Saya sdh pada antrian depan, namun karena suasana tdk kondusif, saya memutuskan utk mundur lagi dari antrian dan memberikan kesempatan kpd saudara2 yg lain utk antri duluan, padahal saya sdh berada di garis depan beberapa lama.

Saya memandang, disinilah salah satu ujian kemabruran. Pertanyaan buat evaluasi kita adalah apakah Allah SWT ridho kalau kita hanya mementingkan urusan kita sendiri, egois bahkan sampai mengabaikan kepentingan orang lain. Didalam antrian, ada jamaah yg sdh dapat sekali kemudian antri kembali utk kedua kalinya sementara jamaah lain ada yg belum mendapatkan giliran.

Semua sibuk ingin menerobos antrian dan minta jatah kepada sang penjual tanpa mempedulikan nasib orang lain sampai2 sang penjual kewalahan dan beberapa kali mengatakan “sabar, sabar, sabar ya hajj”. Mungkin Semua merasa takut tdk kebagian susu tersebut mengingat beberapa kali wadah terlihat kosong. Padahal sang penjual masih punya stok yg cukup yg dpt diambil di lokasi sebelah dalam bentuk bungkusan2 plastik.

Subhanallah, kalau sdh bicara urusan makan, kamar mandi, uang, antrian, dan urusan2 dunia yg lain, sebagian besar orang bisa lupa akan nasib orang lain alias hanya mementingkan kepentingannya sendiri dan keluarganya saja. Padahal Rasulullah dan para sahabat mencontohkan hal yg sangat kontras dg fakta tsb diatas.

Ada suatu kejadian dimana beberapa sahabat sedang sekarat di medan perang dan dalam kondisi yg sangat kehausan. Apabila tdk ditolong dg air minum, nyawa mereka dipertaruhkan.

Namun begitu melihat ada sedikit air (mungkin sebotol), mereka tidak langsung berebutan satu sama lain. Bahkan ketika ditawarkan air kpd si fulan A, dia menolak padahal dia sdh dalam kondisi sekarat yg butuh air yg apabila tdk ditolong dg air, nyawanya akan melayang. Kenapa dia menolak? Ternyata ketika dia akan minum air tsb, dia melihat sahabat di sebelahnya (katakanlah namanya si fulan B) sedang merintih kehausan dan juga sekarat. Si fulan A merasa iba, sehingga ia memberikan wadah air tsb ke fulan B.

Hal yg sama terjadi kepada si fulan B. Dia juga menolak air tsb walaupun sedang sekarat. Dia lebih mementingkan saudara di sebelahnya (katakanlah fulan C) yg juga sdg merintis kehausan dan sekarat juga. Ketika air mau dibawa ke fulan C, ternyata fulan C sdh keburu meninggal. Akhirnya air tsb buru2 dibawa kembali ke fulan B, tapi hal yg sama terjadi, fulan B juga sdh meninggal karena kehausan. Dan terakhir air dibawa kembali ke fulan A, dan nasibnya juga sama, mereka semua keburu meninggal.

Subhanallah, sungguh mulia para sahabat tsb. Dalam kondisi kritis dan sekarat, mereka masih bisa memikirkan saudaranya. Bagaimana dg kita? Dalam kondisi normal saja, kita sering ingin maunya menang sendiri. Padahal kita tdk dalam kondisi kritis dan sekarat seperti mereka para sahabat mulia.

Pantaslah kalau Allah SWT dan Rasulullah menobatkan mereka sebagai generasi terbaik (khairu ummah).