MEKAH, SELASA 15-12-09

Ziarah ke Jeddah. Berangkat dari pondokan jam 14.15. Bis lumayan lega dan kondusif sehingga jamaah bisa tidur sambil menikmati perjalanan.

Shalat ashar di Masjid Qishas, Jeddah. Setiap hari Jumat, di tempat ini, biasanya dilaksanakan hukuman qishas bagi pelanggar2 hukum menurut syariat islam. Yg mencuri dipotong tangan, yg membunuh dihukum mati dsb. Dikecualikan pada bulan2 haram yaitu bulan syawal, dzulqoidah dan dzulhijah dimana didalamnya diharamkan dilakukan peperangan, pembunuhan, pertumpahan darah, dsb.

 

Shalat maghrib di Masjid di pinggir pantai laut merah, bangunannya diatas air seperti terapung sehingga sering disebut Masjid Terapung.

Diperjalanan menuju masjid tersebut, kami melewati lokasi tertutup yg cukup besar yg katanya adalah kuburan nenek moyang manusia yaitu Siti Hawa. Menurut cerita, panjang kuburannya sekitar 25 meter sesuai dg ukuran tinggi rata2 manusia pada jaman itu. Mengenai kebenarannya, Wallahu A’lam. Perlu ditanyakan kembali ke Ustad yg memahami hal tersebut. Yg kami lakukan adalah mengirimkan doa dan Surat Alfatihah untuk almarhumah dari dalam kendaraan karena kendaraan tidak diperbolehkan berhenti disana.

Bada maghrib makan malam di alam terbuka, di pinggir pantai, disamping Masjid Terapung terasa sungguh mengasyikkan. Fresh, segar dan plong di alam bebas terasa seperti lebih merdeka. Subhanallah, begitu indahnya alam ciptaan Allah SWT. Tidak ada satupun ciptaannya yang sia sia.

Setelah shalat isya, kami bergerak menuju pusat perbelanjaan di Jeddah. Kami tiba disana sekitar jam 20.30 malam dan masing2 dipersilakan berbelanja atau sekedar window shopping sampai jam 10 malam. Kami harus menyisakan waktu utk istirahat karena besok pagi jam 7 direncanakan melakukan umroh sunnah ke 6 atau umroh terakhir sesuai skedul dari yayasan.

Tiba di pondokan sekitar jam 23.30. Rasa capek dan ngantuk sdh mengancam mata utk segera tidur begitu tiba di kamar. Namun, tiba2 semua ibu2 dikamar sebelah dimana didalamnya termasuk istri saya, tidak sanggup masuk kamar tsb karena bau ompol dan apek yg begitu menyengat terasa sampai diluar kamar. Semua penghuni kamar keluar sehingga timbul kegaduhan kecil ditengah malam.

Maklum,  2 nenek nenek yg menghuni kamar yg sama memang sedang dalam masalah. Nenek yg satu memang sdh sering ompol di kamar dan yg satunya lagi sdh didiagnosa dokter terkena tipes. Lengkaplah sudah cobaan bagi penghuni kamar tsb.

Setelah lama berdiskusi, akhirnya sementara waktu, ibu2 dipersilakan menggunakan kamar bapak2 disebelah saya, sementara bapak2nya dipersilakan tidur di mushola depan kamar.

Subhanallah, ini mungkin ujian utk para ibu2 penghuni kamar tsb. Namun dilain pihak, ada hikmah yg dpt kita petik bahwa seharusnya setiap orang tua yg berangkat haji perlu ditemani oleh  keluarga atau orang yg diwakilkan. Tujuannya agar sedapat mungkin tidak mengganggu jamaah yg lain. Dan untuk jamaah yg memerlukan perlakuan khusus seperti kasus dua nenek diatas sebaiknya disatukan dalam satu ruang khusus dan perlu dipantau perkembangannya oleh tim dokter atau keluarga.

Sungguh masuk akal, usulan, pendapat atau saran dari beberapa orang bahwa sebaiknya orang2 yg sdh tua renta atau uzur sebaiknya mengurungkan niatnya utk ibadah haji. Dan orang2 yg masih muda dan sehat bugar terutama kaum eksekutif muda sangat diutamakan melakukan ibadah haji. Hal ini karena sebagian besar ibadah disini adalah ibadah yg memerlukan fisik yg prima yg dengannya menjadi salah satu syarat haji yaitu istitho’ah (kriteria mampu).

 

Allah SWT adalah Dzat yang Maha Adil. Allah membuka banyak pintu pintu utk masuk kedalam syurgaNya. Walaupun orang2 yg sdh tua renta atau uzur tdk dpt melaksanakan ibadah haji karena terkendala masalah kesehatan fisik, mereka bisa dibadalkan (digantikan) oleh keluarga atau orang lain.

Sama halnya dengan perbedaan peran antara kaum laki laki dan perempuan dimana kaum laki laki mendapat kesempatan untuk berjihad/berperang dijalan Allah SWT dimana pahalanya sangat besar yaitu masuk syurga tanpa hisab. Sementara kaum perempuan tidak mendapat kesempatan tsb.

Tapi sekali lagi Subhanallah, Allah Maha Adil. Walaupun ibu2 tidak berangkat berperang utk mendapat anugerah mati syahid sebagaimana kaum laki laki, tapi apa apa yg dilakukan kaum ibu pada hakekatnya adalah jihad juga yg mungkin pahalanya juga setara dg pahala orang yg mati syahid.

Menjaga kehormatan diri dan suami, ikhlas dan sabar melayani suami betapapun capek dan lelahnya, mengurus rumah tangga, mendidik anak2 dengan penuh tanggung jawab dan kesabaran adalah contoh2 peran yg dilakukan kamu ibu untuk menggapai ridho Allah SWT. Penderitaan selama mengandung, kesakitan pada saat melahirkan dan kesusahan pada saat mendidik anak anak sejak kecil hingga dewasa merupakan ladang ladang amal seorang ibu.

Subhanallah, sungguh mulia peran seorang ibu. Tidak heran kalau Rasulullah menyebut ibu sebanyak tiga kali sebagai pihak yg harus dihormati seorang anak. Dan alangkah ruginya apabila ladang ladang amal tsb diatas  tidak dilakukan dg penuh ikhlas dan mengharap Ridho Allah SWT.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba hambamu yg sholeh. Karuniakanlah kepada kami istri yg sholeh yg dapat menjaga kehormatan diri dan suaminya. Istri yg dengan penuh ikhlas dan sabar melayani suami dan mendidik anak anaknya. Terimalah dan perhitungkanlah segala amal perbuatan baik thd suami dan anak anaknya sebagai amal sholeh yg mendapat ganjaran besar di akhirat kelak. Dan jadikanlah hambamu ini sebagai panutan di keluarga sebagaimana Rasulullah SAW menjadi contoh teladan bagi keluarganya.