MEKAH, SABTU 19-12-09

Malam terasa menggigil, panas dingin dan kepala terasa berat sekali, mungkin karena kelelahan sehabis mabit di Masjidil Haram.

Jaket, celana double, kaos kaki dan sarung tangan akhirnya jadi pilihan utk membuat tidur lebih nyenyak. Tidak lupa selimut besar juga dimanfaatkan untuk mengurangi rasa dingin tsb.

Kira2 jam 4 subuh, badan ini terbangun. Walaupun Kepala masih terasa berat sekali, saya putuskan utk mandi dan shalat tahajud di mushola dkt kamar. Shalat tahajud bareng dg isteri tercinta mungkin sedikit jadi obat. Wallahu’alam, selama di Mekah, saya jadi tambah sayang dengan isteriku dan inginnya terus selalu bersamanya. Makanya saya kirimkan pesan singkat utk shalat tahajud bareng di mushola. Selepas tahajud dilanjutkan dg shalat taubat, shalat hajat dan witir.

Tadinya mau memaksakan ke Masjidil Haram bersama isteri, walaupun badan belum pulih total. Namun urung dilakukan karena kondisi isteri juga belum kondusif. Saling memaklumi dan memaafkan adalah perilaku yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW . Dengan demikian sebesar apapun masalahnya akan cepat selesai.

Allah SWT didalam Al Quran menyitir bahwa salah satu syarat untuk mendapatkan ampunan Allah adalah mudah memaafkan kesalahan orang lain. Dengan demikian hati tidak dipenuhi oleh perasaan dendam dan marah kepada siapapun. Dan hidup pasti akan terasa lebih bahagia.

Masih teringat kisah yg disampaikan oleh pembimbing bahwa Rasulullah pernah menyebut si fulan sebagai ahli syurga. Para sahabat jadi penasaran utk mengetahui apa keistimewaan si fulan tsb sehingga beliau sdh pasti masuk syurga. Setelah diselidiki, ternyata tidak ada yg istimewa dari ibadah si fulan tsb dibandingkan dg sahabat2 yg lainnya. Karena penasaran, si fulan ditanya oleh sahabat yg menyelidiki tsb. Jawabannya adalah sangat sederhana yaitu dia selalu memaafkan kesalahan orang lain yg berbuat salah kepadanya. Dan itu selalu dilakukan sebelum tidur.

Subhanallah, amal yg nampaknya sederhana ternyata jadi kunci untuk masuk syurga.

Sebagian manusia masih merasa sulit untuk menerapkan contoh tsb diatas karena jiwanya sdh dipenuhi oleh perasaan marah, emosi yang berlebihan dan dendam. Padahal Hal tsb dapat merugikan dirinya sendiri. Hati terasa tidak lapang, dan sulit memaafkan orang lain. Bila demikian, apakah mungkin perasaan bahagia itu akan datang?

Pada akhirnya kami jadi ke Masjidil Haram dan berangkat jam 11.00 waktu setempat.