MADINAH, RABU 23-12-09

Berangkat jam 4 pagi ke Masjid Nabawi utk shalat tahajud dan shubuh. Natnya mau masuk ke Raudhoh, ternyata situasi sdh padat jadi kami mundur dan cukup shalat di Masjid “asli” Nabi. menurut cerita, Masjid nabawi terdiri dari Masjid asli dan tambahan atau pengembangan. Di Masjid asli inilah tempatnya mimbar, tempat muazin dan raudhoh.

Raudhoh di dalam Masjid Nabawi Madinah

Bada shubuh mencoba masuk ke raudhoh dan ikut antrian berdesak-desakan sesambil mencari tahu letak persisnya. Ternyata antrian tsb menuju makam Rasulullah. Namun saya sempat menginjak karpet warna abu abu sebagai ciri khas raudhoh. Saya yakin ini adalah bagian dari raudoh juga karena letaknya diantara mimbar dengan makam Rasul.

“Assalamu ‘alaika Ya Rasulullah, Assalamu’alaika Ya Habiballah” Ya Allah sampaikan shalawat dan salam kami untuk Rasulullah SAW, makhluk yg paling kami cintai dimuka bumi ini.

Ada tiga pintu kuburan disana, yang pertama adalah kuburan Rasulullah, kemudian Abu Bakar Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Pintu Makam Rasulullah SAW

Aisyah pernah bermimpi bahwa ada 3 rembulan yg cahayanya jatuh ketempat tsb dan menghilang. Lalu ia menanyakan hal tsb ke Abu Bakar Shiddiq sang ayah. Abu Bakar menjawab “tunggu tanggal mainnya”. Ketika Rasulullah wafat, beliau dikuburkan ditempat tsb sehingga Abu Bakar mengatakan bahwa inilah rembulan pertama tersebut didalam mimpi Aisyah.

Pada saat Abu Bakar meninggal, beliau dikuburkan ditempat tsb sehingga Aisyah menyimpulkan inilah rembulan kedua. Aisyah sempat berharap agar tempat ketiga adalah untuknya ketika ia wafat. Namun ketika Umar sakit keras, beliau mengutus anaknya utk meminta izin Aisyah agar jenazah Umar dikuburkan disana dan Aisyahpun akhirnya mengizinkan. Sehingga Umarlah yg menjadi rembulan ketiga yg dimakamkan di tempat tsb.

Sebenarnya menurut pembimbing, ada satu ruangan pertama yg masih kosong sebelum makam Rasulullah, jadi total semuanya ada 4 ruang. Menurut beliau, ruang kosong tsb disediakan utk makam Nabi Isa AS yg nanti akan hadir kembali ke bumi sebelum datang hari kiamat.

Jam 9.30 jalan jalan ke pasar karpet, lokasinya tidak terlalu jauh dan dpt dijangkau dg berjalan kaki.

Bada ashar saya masuk ke Raudhoh dan shalat disana. Situasi sgt padat sehingga tidak memungkinkan si Abah utk ikut. Oleh karena itu saya titip ke ketua rombongan yg kebetulan shalat ashar bareng di tempat yg sama.

Saya sempat berdiri beberapa saat dan membaca Al Quran sambil berdiri karena tidak ada tempat utk duduk pada saat itu. Tapi Alhamdulillah tidak lama kemudian ada jamaah yg keluar sehingga posisinya saya gantikan dan saya bisa duduk dg thuma’ninah sambil tilawah.

Begitu selesai azan maghrib, semua berdiri utk shalat sunnah qobliyah. Saya tdk kebagian tempat utk shalat. Dari belakang tdk boleh masuk, dari jamaah depanpun tdk mengizinkan karena memang sdh padat sekali. Akhirnya saya putuskan shalat sunnah sambil berdiri merapat ke tiang di sebelah kanan saya. Saya hanya bisa  menggerak2kan kepala dan sedikit bagian dada pada saat posisi rukuk atau sujud karena memang tdk bisa melakukan rukuk dan sujud seperti biasa.

Setelah shalat sunnah saya langsung berdoa “Ya Allah lapangkanlah dan mudahkanlah saya utk bisa shalat disini” keinginan saya utk shalat disini begitu kuat. Allahpun langsung mengijabah doa saya. Begitu selesai salam, dua orang dibelakang saya menawarkan tempat diantara mereka. Walaupun agak terjepit dan sempit, saya masih bisa rukuk dan sujud seperti biasa. Namun saya tdk bisa melakukan duduk diantara dua sujud dg sempurna.

Sepanjang shalat dan bada shalat hati saya secara spontan berdoa sebagai wujud rasa syukur atas diberikannya tempat shalat tsb “Ya Allah, mudahkanlah orang2 yg telah membantu saya utk bisa shalat disana, terimalah amal ibadahnya dan ampunkanlah dosanya”.

Bada maghrib saya keluar Raudhoh dan kembali ke tempat semula utk memberikan kesempatan jamaah lain shalat disana. Ini adalah bagian dari rasa empati kita kepada jamaah lain yg juga punya hasrat shalat disana.

Ibadah memang mengarahkan kita utk tdk bersikap egois memikirkan kesenangan diri sendiri. Apalah artinya kita berlama2 berdoa dan shalat di Raudhoh bila kita tidak peduli akan nasib jamaah lain yg juga mau masuk kesana. Apakah Allah ridho dg cara2 spt ini?.

Sama halnya dg upaya banyak jamaah haji utk mencium hajar aswad dengan cara2 yg tidak tepat seperti menyewa jokie, membuat barikade bahkan sampai mendorong dan menginjak orang lain secara tidak sadar. Semua orang berlomba utk mengejar sunnah yg satu dengan cara mengabaikan sunnah yg lain yaitu menjaga hak hak orang lain.

Justru suksesnya pelaksanaan ibadah dinilai dari keistiqomahan menjaga nilai nilai ibadah tsb sepanjang waktu. Seperti istilah iqomatus sholah artinya menegakkan nilai2 shalat pd waktu waktu diluar shalat.