MADINAH, KAMIS 24-12-09

Bada shubuh jam 7 bis sdh siap mengangkut jamaah utk ziarah ke bbrp tempat yaitu Masjid Quba, bukit uhud, kebun kurma dan Masjid Qiblatain.

Masjid Quba di Madinah

Di Masjid Quba, Alhamdulillah bisa melaksanakan shalat tahiyatul Masjid dan dhuha. Menurut hadits, barang siapa shalat dua rakaat di Masjid Quba maka sama dengan satu kali umroh.

Masjid Quba adalah Masjid yang pertama dibangun di dunia. Jaraknya sekitar 3 km dari Masjid Nabawi. Situasi tdk terlalu padat disana.

Di bukit uhud, jamaah diberikan penjelasan ttg sejarah perang uhud dimana disini syahid 70 sahabat Nabi termasuk didalamnya paman Nabi yang bernama Sayidina Hamzah. Nabi Muhammad  juga mengalami patah gigi dan terluka.

Bukit Uhud

Didalam sirah nabawiyah dijelaskan bahwa pada awalnya kemenangan diraih oleh kaum muslimin. Namun sekelompok pasukan pemanah yg ditempatkan diatas bukit langsung turun seketika dari bukit setelah pasukan musuh lari kucar kacir. Mereka  tergiur oleh ghanimah (harta rampasan perang) yg ditinggalkan musuh. Padahal sebelum perang Rasulullah telah mewanti2 mereka utk tetap diposisi masing2 sampai ada aba aba lebih lanjut. Akibat kesalahan tsb, harga yg dibayar sangat mahal yaitu syahidnya sahabat2 terbaik Nabi dan Nabi juga ikut terluka.

Hikmah yg bisa dipetik dari kisah tsb adalah bahwa seorang prajurit/bawahan dalam kondisi apapun HARUS taat kepada perintah atasannya atau pemimpinnya sepanjang dalam hal kebaikan. Ini bukan hanya berlaku pada jaman Nabi tetapi juga harus bisa diterapkan didalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Didalam konteks rumah tangga, seorang istri juga harus mentaati suaminya sepanjang suaminya mengajak/menyuruh kepada kebaikan. Begitu juga dg seorang anak terhadap orang tuanya. Tidak ada ruang utk mbalelo dari pemimpinnya. Namun demikian seorang pemimpin yg baik haruslah tetap menghargai pendapat anggotanya sepanjang untuk kebaikan bersama. Dia tidak bisa bersikap otoriter dan keras kepala.

Namun kenyataan yg kerap muncul di masyarakat kita, apalagi dipertontonkan didalam sinetron2, seorang istri begitu terang2an dan berani menentang suaminya seolah tidak ada rasa hormat sama sekali. Begitu juga sikap anak terhadap orang tua. Kata2 kasar dipertontonkan oleh mereka, seolah olah merupakan hal yg lumrah. Rumah tangga jadi kacau dan jauh dari nilai nilai islam.