Tag

,

Hari-hari terakhir di Madinah terasa lebih sepi. Banyak jamaah yang sudah kembali ke tanah air masing-masing.

Suasana sedih sudah mulai menggelayuti hati ini karena harus berpisah dari kota tempat hijrah Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya ini.

Pagi-pagi saya dan istri menyempatkan untuk shalat dhuha di Masjid Nabawi sebelum meninggalkan Madinah. Kesempatan tersebut jg kami manfaatkan untuk mengabadikan dan mendokumentasikan foto di pelataran Masjid Nabawi ini termasuk berfoto dengan tiga anak keren berkebangsaan Timur Tengah.

Ketika kami baru beberapa rakaat shalat dhuha, ada jamaah yayasan kami yang menginformasikan bahwa jadwal keberangkatan bis dimajukan jam 9 pagi dari rencana sebelumnya jam 11an.

Dengan bergegas kami segera meluncur menuju hotel untuk membawa barang-barang ke dalam bis. Untungnya semua tas dan barang-barang yang harus dibawa sudah kami persiapkan dengan baik malam harinya sehingga tidak ada yang tertinggal.

Sesampai di airport, proses bagasi dan administrasi memakan waktu sangat lama, sampai-sampai si Abah sudah mulai mual dan pusing-pusing bahkan muntah. Kami segera “mengamankan” beliau ke tempat duduk di dalam dengan meminta izin kepada jamaah yang berada di antrian depan untuk mendahulukan si Abah dalam proses bagasi di airport tersebut. Alhamdulillah semua jamaah mendukung upaya tersebut. Disinilah letak persaudaraan yang hakiki dimana kita seyogyanya mendahulukan kepentingan orang lain yang lebih membutuhkannya.

Tidak ada aktivitas khusus selama di dalam pesawat. Selain istirahat, sebagian jamaah memanfaatkan suasana didalam pesawat untuk berfoto dan merekam video. Suasana keakraban sangat terasa diantara para jamaah.

Setelah landing di Bandara Soekarno Hatta, petugas yayasan membantu mengurus bagasi para jamaah dan akhirnya bis mengantar kami ke Masjid Al Qodar di kawasan dekat Islamic Village, Tangerang.

Disana, para penjemput dari para jamaah sudah menyemuti lokasi dan pelataran Masjid. Suasana haru, sedih, bahagia bercampur padu saat melihat sanak saudara yang turut menjemput kami.

Upacara penjemputan dilaksanakan dengan penuh hikmat di dalam Masjid tersebut. Sujud syukur berjamaah dan doa yang dipimpin oleh ketua yayasan membuat deru tangis jamaah tidak dapat dibendung lagi. Isak tangis haru dan tetesan air mata menjadi suasana yang sungguh mengesankan.

Suasana tersebut tidak jauh berbeda ketika kami tiba di rumah. Menjumpai orang tua, anak-anak dan sanak famili yang sudah menunggu di rumah juga menjadi pemandangan yang penuh haru dan bahagia. Tetangga terdekat juga menyempatkan memberikan ucapan selamat datang kepada kami.

Allahummaj’alhu hajjan mabruro, Ya Allah, terimalah haji dan umroh kami. Jadikanlah kami menjadi orang yang lebih baik sepulang haji.

Jadikanlah kecintaan dan kerinduan kami kepadaMu dan kepada RasulMu Nabi Muhammad SAW menjadi benteng dalam kehidupan kami. Dan mudahkanlah kami untuk kembali beribadah ke Mekah dan Madinah bersama keluarga, istri dan anak-anak kami. Amin Ya Robbal Alamin.

Demikian, kisah haji ini mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua. Dan mohon maaf bila ada kesalahan dan kehilafan.

Sekian.

Wassalam
Nasrul Chair

Posted with WordPress for BlackBerry.