Tag

Komentar Aneh, it doesn’t make sense, kok bisa ya atau hal sejenis lainnya mungkin muncul dibenak kita ketika membaca sekilas judul diatas. Tapi saya ingin membawa anda ke nuansa yang berbeda.

Pagi ini, ketika saya keluar rumah hendak menuju perhentian angkot jurusan stasiun dekat rumah, seorang ojek kebetulan sedang berkeliling dan akhirnya menawarkan saya untuk naik ojeknya.

Awalnya saya menolak karena sudah beberapa lama ini memang saya sudah terbiasa naik angkot menuju stasiun tersebut olehkarena jaraknya dekat dan ongkosnya tentu lebih murah. Disamping itu, dalam situasi hujan, naik angkot terasa lebih nyaman karena saya bisa memakai payung yang sering saya bawa di tas. 

Namun pikiran saya tiba2 berubah mendadak. Muncul perasaan iba kepada tukang ojek tersebut. Terlintas dalam pikiran saya, pastilah si tukang ojek sedang butuh penumpang soalnya biasanya dia mangkal di dekat pos satpam setiap harinya menunggu panggilan penumpang. Akhirnya sayapun memutuskan naik ojek tersebut.

Berbelanja atau melakukan transaksi seringkali tidak semata2 didasarkan oleh kebutuhan masing2 pihak. Dalam situasi normal, jual beli memang terjadi pada saat si pembeli tertarik dengan barang dagangan si penjual. Unsur2 yang menjadi pertimbangan biasanya kualitas dan harga barang tersebut.

Namun tidak demikian dengan contoh kasus diatas. Ada nuansa lain yaitu perasaan iba atau ingin menolong yang muncul dalam kegiatan transaksi tersebut. Ini bukanlah hal satu2nya. Beberapa waktu lama lalu, kami juga memutuskan membeli keset rumah dari seorang tua yang menjajakan brg dagangannya di jalan walaupun sebenarnya kami sedang tidak membutuhkan barang tersebut. Karena si penjual sudah tua renta, kami jadi membelinya.

Hubungan transaksional dimana pihak2 yang bertransaksi saling membutuhkan atau win win condition memang sudah menjadi kelaziman, apalagi dalam konteks bisnis.

Namun hubungan tersebut seringkali tidak langgeng ketika masalah2 sulit muncul. Karena didasarkan kepentingan masing2, semua pihak akan mencoba “mengamankan” kepentingannya dan bila perlu menang.

Berbeda dengan apabila hubungan tersebut dibangun dengan konsep hubungan bathin dimana ada nuansa emosional dan spiritual yang muncul. Ketika tidak butuhpun kita bisa bertransaksi misalnya dalam kondisi partner kita memang sedang sekarat membutuhkan bantuan.Hal ini dipercaya lebih long lasting dibanding semata2 hubungan transaksional diatas.

Misalnya salah satu supplier/mitra bisnis kita dari kategori perusahaan kecil sedang butuh order agar bisa menghadapi krisis di perusahaannya, yang apabila tidak ditolong maka “PHK” menjadi alternatif yang harus diambil kepada karyawan2nya. Sementara kita sudah punya supplier lain yang termasuk perusahaan besar yang lebih unggul dari sisi harga misalnya

Dengan konsep hubungan hati ini, bisa jadi kita menolong supplier tersebut dari krisis dengan melakukan order sambil mengadvokasi yang bersangkutan agar mencapai tingkat kompetisi harga yang kita harapkan. Masalah produktivitas dan efisiensi menjadi isu utama yang perlu ditelaah. Toh perusahaan kita diyakini tidak akan bangkrut dengan menolong perusahaan kecil tersebut.

Dalam konteks lain, saya juga membaca ada seorang ustadz pebisnis yang masuk ke bisnis dengan motivasi menolong orang terutama karyawannya. Beliau tidak pernah menghitung Break Event Point (BEP) atau kalkulasi2 keuangannya lainny ketika memulai bisnis. Yang paling penting adalah berapa banyak orang yang bisa ditolongnya. Bisnis makanannya sepi dan rugi terus selama 6 bulan
Tapi ia bersikukuh mempertahankannya dengan alasan tidak ingin memecat karyawannya. Apa yang terjadi kemudian? Dibulan berikutnya ada yang berminat menyewa ruangan diatas rumah makan itu untuk dijadikan kursus bhs inggris. Peminatnya membludak dan berdampak kepada rumah makan tersebut.

Hikmah yang bisa kita petik adalah kalau kita sering/rajin menolong orang lain, makan yakinlah Tuhan akan selalu menolong kita.

Wassalam
Nasrul Chair

Posted with WordPress for BlackBerry.