Tag

Ketika taxi yang kami naiki berhenti di dekat rumah dan kami baru beranjak turun , tiba-tiba Syifa, anak kami yang kedua, menyebar kertas yang sudah disobek2 ke arah saya sambil memberikan sebuah kertas yang masih dalam kondisi terlipat.

“Welcome to home”. Begitulah ternyata isi tulisan didalam lipatan kertas tersebut. Terlepas dari tata bahasa yang dipakainya yang terkesan lucu, saya merasa sangat tersentuh dengan tulisan tersebut padahal kalimat tersebut seringkali kita baca atau dengar dalam keseharian kita. Saya sangat memakluminya karena barangkali hal tersebut murni muncul dari rasa kangen kepada kami setelah beberapa hari tidak bertemu. Bahkan Fira, anak kami yang pertama sempat menulis “kangen shanza!” melalui sms sebagai refleksi kangen kepada anak bungsu kami yang masih bayi tersebut.

Saya dan istri beserta anak kami yang ketiga dan si bungsu yang baru berumur satu setengah bulan memang sejak hari rabu sampai minggu berada di kota Cirebon. Selepas menjalankan tugas dinas, kami memutuskan melanjutkan bersilaturahim ke keluarga disana.

Alangkah bahagianya hidup ini apabila kehadiran kita dirindukan dan dinanti oleh anggota keluarga bahkan orang-orang disekitar kita.
Rasa capek dan lelah rasanya hilang begitu mendapati antusiasme mereka dalam menyambut kita.
Ini menjadi seperti menetralisir kepenatan dan kelelahan serta kejenuhan dalam hal apapun.

Saya teringat dengan ceramah salah satu ustad di masjid deket rumah. Beliau menyampaikan bahwa ada beberapa tipe manusia berdasarkan penerimaan orang lain terhadapnya.

Yang pertama adalah tipe manusia wajib. Orang seperti ini tentunya adalah tipe yang paling ideal. Orang lain akan merasa senang dengan kehadirannya bahkan ia dipercaya memberikan kontribusi yang positif thd masyarakatnya. Ketidakhadirannya dalam suatu kegiatan akan menimbulkan rasa kehilangan bagi orang2 disekitarnya. Ia senantiasa dicari dan dinanti-nanti setiap saat seakan tidak akan pernah tergantikan oleh orang lain.

Tipe yang kedua adalah manusia sunnah. Kehadirannya sering berperan positif dalam membantu lingkungannya. Ia aktif dalam berbagai kegiatan di masyarakatnya. Namun apabila ia tidak hadir, orang tidak terlalu mencari-cari dan menungu2nya. Mungkin mereka merasa banyak orang lain yang dapat menggantikannya.

Tipe selanjutnya adalah manusia makruh. Orang tipe ini dipercaya tidak memiliki pengaruh apa apa didalam masyarakat. Kehadiran maupun ketidakhadirannya bukanlah menjadi suatu isu yang penting untuk dibahas. Orang tipe ini cenderung pasif dan tidak mau bergaul dengan lingkungannya. Ia sibuk dengan urusan dan kepentingannya sendiri bahkan seringkali mengabaikan keluarganya sendiri.

Tipe terakhir adalah manusia haram. Ini adalah manusia paling buruk dari empat tipe manusia diatas. Kehadirannya selalu menimbulkan bencana dan kekacauan terhadap orang lain dan lingkungannya. Ia menjadi seseorang yang dibenci dan dijauhi karena sikap dan tindakannya tersebut. Bahkan ditengah keluarganya sekalipun, ia seringkali berperilaku menjengkalkan. Makanya tidak heran apabila keluarganya sangat senang apabila ia tidak berada di rumah. Anak-anak merasa terimtimidasi dan tidak nyaman bila ia ada ditengah tengah mereka. Pokoknya suasana menjadi “not comfort” deh..

Nah bagaimana dengan kita? Termasuk tipe manakah kita?

Wassalam
Nasrul Chair

Posted with WordPress for BlackBerry.