Tag

, , ,

Serial SMILE (Strategy, Management, Innovation, Leadership and Entrepreneurship)

By Nasrul Chair

Komunikasi merupakan faktor penting baik dalam dunia bisnis maupun dalam hubungan antar manusia lainnya. Komunikasi yang tidak efektif seringkali menjadi faktor utama penyebab munculnya masalah-masalah yang kita hadapi baik di dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam lingkungan pekerjaan. Seorang anak tiba-tiba menjauh dan menghindar dari orang tuanya, seorang istri berprasangka buruk terhadap suaminya atau sebaliknya, atasan yang selalu dianggap otoriter oleh bawahannya, bawahan yang dianggap tidak mau menuruti kemauan atasannya adalah beberapa contoh masalah-masalah di sekitar kita yang mungkin timbul dari kesalahan dalam urusan komunikasi. Makanya tidak heran kalau sebagian dari kita ada yang membuat statement statement seperti dibawah ini misalnya:

  • saya sudah bertahun tahun hidup berumah tangga bersama dia, tapi kok sampai sekarang saya bingung apa sih maunya dia…segala sesuatunya serba salah….makin lama makin ngak ngerti saya…
  • sepertinya dia kok belum mengerti saya ya….
  • kok bos saya selalu memaksakan kehendaknya ya padahal saya sudah menjelaskan panjang lebar tentang kendala kendalanya…
  • bawahan saya yang satu ini, sudah berkali kali saya kasih tahu, kok ngh ngerti ngerti ya…padahal saya sudah menjelaskan permasalahannya dengan sangat jelas…
  • dll dll

Masalah teknik-teknik atau skill dalam melakukan komunikasi yang dibahas oleh para pakar seringkali berkutat hanya pada masalah-masalah teknis yang sifatnya kulit/permukaan saja. Namun yang perlu kita cermati adalah bagaimana kita membangun komunikasi yang efektif. Esensi dari komunikasi yang efektif adalah adalah bagaimana kita membangun hubungan dengan pihak yang kita ajak komunikasi.

Hubungan dibangun tentunya dengan menggunakan bahasa-bahasa yang dapat dipahami oleh pihak yang kita ajak komunikasi tersebut, jadi bukan dengan bahasa dan persepsi si komunikator sendiri. Banyak contoh dimana para pemimpin merasa telah terjadi komunikasi antara ia dengan pengikutnya padahal itu hanyalah sebuah ilusi belaka. Komunikasi hanya dibangun secara formalitas dengan hanya mengandalkan aspek aspek faktual dan angka-angka belaka. Tidak ada pola hubungan emosional yang dibangun serta tidak adanya saluran simbolik yang digunakan dalam melakukan komunikasi tersebut. Akhirnya komunikasi terasa hambar dan tidak efektif. Komunikasi yang gagal biasanya hanya melibatkan kepala saja tanpa menyentuh hati atau perasaan.

Membangun hubungan dalam komunikasi tidak hanya dilakukan antar manusia, tetapi juga bahkan banyak dilakukan terhadap binatang. Dalam buku Suara Pemimpin karya Clarke & Crossland, dicontohkan bagaimana Monty Roberts, seorang horse trainer, menggunakan bahasa kuda dalam menjinakan kuda.

Secara tradisional, menjinakan kuda (breaking a horse) memerlukan upaya keras empat atau lima orang selama berjam jam kadang berhari hari. Kata-kata breaking identik dengan cara cara dengan kekerasan seperti hardikan, pecutan, dan paksaan tanpa ada komunikasi.

Model starting a horse menggunakan cara yang berbeda. Gagasannya adalah bagaimana memahami cara kuda berfikir. Tekniknya menggunakan komunikasi untuk membangun sebuah hubungan. Bahasanya adalah bahasa kuda, bukan bahasa pelatihnya. Dan tujuannya meminta kuda bergabung secara sukarela.

Dalam salah satu video yang diunduh di situs youtube, saya menyaksikan melalui internet bagaimana Monty Roberts memperagakan keahliannya dalam melakukan starting a horse tersebut. Bila ia menatap, kuda menjauh darinya dan pindah ke sisi lain. Roberts menggiring kuda dengan menggunakan tali katun yg dikibaskan pelan ke bokongnya dan kudapun berlalri mengelilingi pagar. Bila kuda menunduk, menandakan bahwa ia sdh tidak mau kabur. Bila Robert berdiri memunggungi kuda tersebut, itu pertanda percaya dan undangan. Dan takjubnya, kuda mulai mendekatinya. Sampai akhirnya ia berhasil memasangkan pelana ke atas kuda tersebut.

Lihat Video Monty Roberts

Metode Monty Roberts ini begitu efektif sehingga Ratu Elizabeth II mengundangnya ke Inggris untuk menjinakkan enam belas ekor kuda untuk istal kerajaan.

Jadi komunikasi pemimpin akan efektif hanya apabila terjadi hubungan dengan pengikutnya. Saluran yang dipakai bukan hanya berupa fakta fakta tetapi juga saluran emosional dan simbol simbol. Bahasa yang digunakan adalah bahasa pengikutnya dengan terlebih dahulu memahami cara berfikir pengikutnya. Komunikasi yang efektif akan membuat pengikutnya tersebut mengikuti secara sukarela dengan penuh energi dan semangat bukan karena takut atau terpaksa.

Penggunaan saluran emosional dalam komunikasi sangatlah penting bagi seorang pemimpin. Peter Drucker, seorang pakar manajemen, dalam Harvard Business Review, mengatakan bahwa para pemimpin perlu secara emosional tersambung dengan jumlah sementara mereka yang semakin banyak tapi sering terabaikan.

Komunikasi dengan melibatkan hati dan perasaan dinilai sangat efektif. Sebagai ilustrasi, bagaimana perasaan kita apabila melihat bayi kecil, mungil yang lucu dihadapan kita. Walaupun bayi tersebut belum bisa berkomunikasi secara verbal, namun pastinya kita merasa “tersambung” dengannya. Ada perasaaan emosional yang muncul seketika misalnya ada rasa senang, gemes, bangga, dan sebagainya. Rasa ingin selalu memeluk dan menciumnya pun seakan tidak pernah akan hilang, kapanpun dan dimanapun. Kitapun tergoda untuk berkomunikasi dengan bayi tersebut misalnya dengan ungkapan ” ee…lutuna (lucunya maksudnya)…, atau nang ning nong ning nang ning nong…dsb dsb…. Bahkan kita rela bertingkah laku aneh atau mendemostrasikan mimik muka aneh hanya sekedar untuk berkomunikasi dengan bayi tersebut dan seolah olah kita telah menjadi follower dari bayi tersebut.

Jadi, sebagai pemimpin, kita diharapkan dapat melakukan starting orang berbakat bukan breaking orang berbakat dengan melibatkan fakta fakta, emosi dan juga simbol-simbol dalam pola komunikasi.

Salam sukses

Nasrul Chair