Tag

, ,

Ketika saya baru memasuki komplek perumahan tempat saya tinggal selepas pulang kerja, tiba tiba saya melihat ada seekor anjing yang berlarian di gang tersebut. Warnanya kecoklat-coklatan, bulunya rapi, ukurannya sedang, tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Rupanya ada seekor kucing yang sedang diincar dan dikejarnya, entah sekedar bermain-main atau memang ingin berkelahi.  Anjing ini memang tinggal persis di dekat tempat ia berlari-larian tersebut. Pagar rumah sang pemilik anjing, yang biasanya selalu tertutup, kali ini memang terlihat terbuka sehingga seolah-olah membiarkan sang anjing bermain dan berlari-larian di sekitar gang tersebut.

Perasaaan was-was dan khawatir langsung menghinggapi saya ketika ingin melewati gang tersebut padahal saya harus segera menuju rumah yang terletak hanya satu blok dari gang tersebut. Di satu sisi, itulah gang terdekat yang biasa saya lewati menuju rumah begitu turun dari perhentian angkot, namun dilain pihak, kehadiran sang anjing di gang tersebut  sungguh membuat hati saya was-was. Pikiran saya tiba tiba membayangkan bagaimana sakit rasanya kalau digigit seekor anjing. Maklum saya agak trauma dengan anjing. Ketika masa remaja, saya pernah hampir tertabrak mobil gara gara berlari secepat kilat mengindari seekor anjing yang menggonggong dan mengejar saya.

Sungguh keputusan yang tidak mudah buat saya pada saat itu. Apabila memutuskan mundur kembali dan mencari jalan lain untuk menghindar dari sang anjing tersebut rasanya nggak seru plus ada perasaan malu terhadap diri sendiri. Masak kok sama anjing saja takut (dalam hati saya). Setelah melewati pergolakan batin yang tidak gampang, akhirnya saya memutuskan tetap melewati gang tersebut dengan segala resiko yang sudah saya bayangkan sebelumnya tersebut. Saya memutuskan untuk berjalan perlahan, santai dan mencoba tetap tenang tapi juga dengan hati penuh waspada kalau kalau anjing itu tiba-tiba menyerang saya dari belakang.

Apa yang saya bayangkan ternyata terjadi, anjing tersebut tiba-tiba menggonggong dan sepertinya hendak menyerang saya. Merasa tidak ada pilihan lain, saya terpaksa memberanikan diri “menghadapi” anjing tersebut. Saya berbalik badan dan bersiap-siap layaknya seseorang yang ingin berkelahi dengan seekor anjing. Tas yang saya pegang saya jadikan sebagai tameng sebagai ancang-ancang apabila tiba-tiba ia melompat menghampiri saya. Tangan kanan saya sudah siap menghajar sang anjing bila ia benar-benar berani melayang ke arah saya. Wah pokonya seru deh, perasaan kayak  di film film,hehehe. Perasaan takut, ngeri, was-was, malu, penasaran serta pasrah dan berani bercampur aduk jadi satu.

Spontan saya berjongkok dan mengambil batu, karena teringat bahwa anjing biasanya takut sama batu. Beberapa kali saya justru mencoba tampil percaya diri dan berani menghadapi sang anjing. Bahkan saya mulai berani maju mendekatinya, saya datangi dan saya takut-takuti dengan pura-pura jongkok. Dan alhasil sang anjing sepertinya juga menjadi takut dengan sikap berani saya tersebut dan berusaha menghindar dari saya. Dan sayapun akhirnya merasa menang karena bisa melewati gang tersebut dengan aman sampai di rumah.

Ini membuktikan bahwa rasa takut itu sebenarnya sangat relatif. Apa yang kita takuti dalam hidup ini seringkali tidaklah semenakutkan yang kita bayangkan. Namun, rasa takut itu juga sebenarnya adalah karakter fitrah manusia. Takut miskin, takut dipecat, takut ditolak, takut salah, takut gagal, takut hantu, takut mati dan takut takut lainnya adalah sebenarnya bumbu dari kehidupan ini yang bisa jadi ada di dalam diri kita. Lawan dari takut adalah berani. Rasa takut hanya akan hilang apabila dilawan dengan keberanian.

Saya jadi teringat cerita kakak saya pada waktu silam. Sebagaimana  orang kebanyakan, ia sebenarnya adalah tipe orang yang sangat takut akan hantu, yang seringkali divisualisasikan menyeramkan didalam film atau sinetron-sinetron. Secara jujur, memang, di  lingkungan kita, sejak kecil, sudah over explotasi terhadap sosok hantu-hantu. Ada kuntilalak lah, ada genderuwo lah, ada suster ngesot lah, ada tuyul lah dan banyak sosok-sosok hantu lain yang secara sengaja dikomersialisasi didalam film atau sinetron. Belum lagi gosip-gosip seputar hantu dan mistik lainnya selalu menjadi isu menarik yang dibicarakan di kalangan masyarakan kita.

Nah, ketika ia hendak berontak dengan rasa takut itu, ia terinspirasi dari sebuah buku populer karya David J. Schwartz yang berjudul The Magic of Thinking Big atau diterjemahkan menjadi Berpikir dan Berjiwa Besar. Menurut Schwartz, Ketakutan adalah Musuh Sukses Nomor Satu! Ketakutan menghentikan orang memanfaatkan peluang; Ketakutan melelahkan mentalitas fisik; Ketakutan benar-benar membuat orang sakit; Ketakutan menyebabkan gangguan organic; Ketakutan akan memendekkan umur Anda; dan bahkan Ketakutan akan menutup mulut Anda ketika sebenarnya Anda ingin berbicara.

Ia akhirnya memutuskan untuk menjadi berani. Di tengah malam hari, ia terbangun dan memutuskan keluar belakang rumah yang memang lokasinya dekat kuburan dengan tujuan mengalahkan rasa takut akan hantu. Akhirnya sampai pagi, ia ternyata tidak menemukan apa yang ia takutkan dalam pikirannya. Dan menjadi menanglah ia melawan rasa takutnya sendiri. Jadi menjadi takut atau berani adalah sebuah pilihan yang kita sendirilah yang menentukan, bukan tergantung dari obyek yang kita takutkan tersebut.

Dalam kasus saya dan seekor anjing diatas, rasa takut juga seringkali hilang dengan sendirinya dalam situasi keterpaksaan. Ketiadaan alternatif, situasi diujung tanduk, genting, darurat dan alasan alasan sejenis dipercaya bisa mengubur rasa takut tersebut. Dalam situasi-situasi diatas, orang seringkali menjadi terpaksa berani. Dan banyak orang yang terpaksa berani dan akhirnya sukses justru berawal dari situasi keterpaksaan.

Karena terkena PHK dari pekerjaannya dan selalu ditolak menjadi karyawan di beberapa perusahaan yang dilamarnya adalah salah satu contoh situasi keterpaksaan yang membuat beberapa orang memberanikan diri berganti haluan menjadi seorang entrepreneur (pengusaha) dan akhirnya sukses.

Jadi sekali lagi menjadi takut atau berani adalah suatu pilihan. Kitalah yang menentukan. Orang sukses adalah orang yang berani dalam pengertian yang positif: berani mencoba, berani gagal, berani bertindak, berani memulai, berani mengambil keputusan, berani menghadapi hidup, berani berinovasi, berani berubah, berani memperbaiki diri, berani berjuang, berani dalam kebenaran, berani berbeda, berani menghadapi situasi-situasi sulit, dan berani berani lainnya.

Wassalam

Salam berani

Nasrul Chair