Tag

,

Nasi goreng atau nasi rames ditambah teh manis hangat merupakan menu andalan yang selalu ditawarkan kepada setiap penumpang kereta api jurusan Jakarta Cirebon. Perut lapar ditambah dengan udara dingin yang dihembuskan dari blower blower Air Conditioner yang berada di setiap gerbong eksekutif serasa menambah imajinasi tersendiri akan nikmatnya sarapan di kereta di pagi hari tersebut. Bisa dibayangkan, saya harus berangkat dari rumah jam 4 lebih 45 menit untk mengejar jadwal keberangkatan kereta jam 6 pagi tepat. Itupun tidak sempat sarapan dulu dari rumah mengingat saya tidak ingin merepotkan istri di pagi pagi buta tersebut. Lagipula sarapan pagi di kereta atau di stasiun sudah menjadi kebiasaan saya selama ini apabila pergi ke kota tersebut.

“Nasi rames satu sama teh manis hangat ya mba” pesan saya kepada seorang petugas wanita yang menawarkan makanan dan minuman didalam gerbong tersebut. Alhasil saya segera mengambil sepiring nasi rames yang nampaknya sdh tersedia di atas sebuah nampan kayu yang dibawa oleh sang asisten pria di belakangnya. Kebetulan bapak disebelah saya juga memesan persis sama dengan pesanan saya tersebut dan iapun mengambil satu piring nasi rames yang sdh tersedia tersebut.

“Tolong air tehnya jangan lama lama ya mba” bapak di sebelah saya mencoba mengingatkan si petugas wanita tersebut. “Soalnya kalau sdh terlanjur makan tapi airnya belum datang, khan nanti bisa seret di tenggorokan” ia menjelaskan. Iapun memutuskan untuk tidak memulai makan sampai air teh yang ditunggu tunggunya benar benar datang. Sementara saya sdh tidak sabar untuk memulainya  lebih dahulu walau dengan tempo perlahan lahan agar pas dg kedatangan tehnya. Karena tergoda, akhirnya bapak disebelah sayapun “terpaksa” mulai menyantap makanan tersebut.

Setelah menunggu sekian lama, sementara nasi di piring sudah hampir habis, akhirnya si petugas wanita tersebut datang dan memberikan air teh yang dipesan kepada kami berdua. “Maaf pak” si petugas mencoba minta dimaklumi atas keterlambatan tersebut. Nampaknya iapun menyadari bahwa keterlambatan tersebut sudah diluar batas kewajaran dari biasanya. Bahkan, dalam kesempatan lain, ia beberapa kali juga meminta maaf dan berusaha menjelaskan alasan keterlambatan tersebut.

“Kayak Mpok Minah aja” si bapak sebelah saya spontan bergumam sambil mengambil air tehnya tersebut. Pernyataan bernada protes tersebut sepertinya wajar karena keterlambatan tersebut memang cukup lama. Mendengar gumaman bapak tersebut, saya tiba tiba teringat dg sosok Mpok Minah yang mungkin sdh cukup familiar di telinga saya.

Siapa yang tidak kenal dg Mpok Minah. Ia memang salah satu sosok yang ikut populer dalam sinetron komedi betawi Bajaj Bajuri disamping pemeran utama Bajuri  dan Oneng yang pernah ditayangkan di salah satu televisi swasta. Kepopulerannya lahir seiring dengan rating tinggi yang diperoleh oleh sinetron tsb pada masanya tersebut. Bahkan acara ini pernah dire-run (ditayangkan ulang) beberapa kali dan juga menghasilkan rating yang bagus dari pemirsa. Maklum masyarakat kita termasuk saya sendiri banyak yang menyukai tayangan2 yang bergenre  komedi. Mungkin masyarakat sdh jenuh dan ingin terlepas diri dari kepenatan dan masalah masalah dihadapi masyarakat kita sehari hari, entah kemacetan, biaya hidup yang selalu meningkat, masalah ekonomi, sosial, dan sebagainya.

Yang paling diingat pemirsa tentang sosok Mpok Minah adalah ia selalu mengucapkan kata kata maaf sebagai pembuka setiap dialog yang diperankannya. Kata kata maaf pak atau maaf bu tidak pernah alpa dari mulut Mpok Minah. Terlepas benar atau tidak konteks masalahnya, ia tetap selalu menggunakan kata kata maaf tersebut secara berulang ulang. Ini tentunya menjadi ciri khas yang unik dari peran Mpok Minah di sinetron tersebut. Peran ini menggambarkan bahwa ia adalah seorang yang takut berbuat salah atau takut membuat perasaan orang lain terluka.

Kata kata maaf yang selalu diucapkan berulang ulang oleh Mpok Minah dalam setiap kalimat percakapannya, bahkan  pernah menjadi tren lelucon sehari hari di lingkungan pergaulan pada saat itu. Maklum masyarakat  kita seringkali mencontoh dan menjiplak apa apa yang mereka lihat dari televisi terutama tayangan sinetron.

Mungkin kita sepakat bahwa meminta maaf adalah tindakan yang sangat mulia. Ajaran agama manapun pasti mendorong umatnya untuk selalu meminta maaf. Apalagi manusia pastilah sering berbuat salah entah disadari atau tanpa disadarinya. Dengan meminta maaf, berarti kita menyadari bahwa kita telah berbuat salah terhadap pihak lain atau mungkin kita tidak dapat memenuhi harapan orang lain terhadap kita atau kita belum dapat sepenuhnya melakukan apa apa yang menjadi tanggungjawab kita dg baik.

Seorang istri mungkin meminta maaf ketika masakan yang dihidangkan tidak sesuai selera suaminya. Sang suami, sebaliknya juga meminta maaf karena terkesan cuek dan tidak dpt memperhatikan dengan detil mengenai pelajaran anak anak seiring dg kesibukannya di tempat kerja. Seorang atasan mungkin meminta maaf karena pernah memarahi bawahannya secara berlebihan atau pernah berkata kata yang tidak pantas kepada bawahannya. Sebaliknya sang bawahan juga meminta maaf karena hasil kerjanya belum maksimal sesuai harapan atasannya. Suasana saling memaafkan seperti contoh diatas nampaknya sangat indah sekali.

Namun dilain pihak, kata kata maaf janganlah dijadikan hanya sebagai lip service atau sandiwara belaka seperti peran Mpok Minah tersebut. Kesadaran dan ketulusan untuk meminta maaf akan tidak berarti apa apa apabila tidak ada perubahan dalam tindakan. Dalam hal pelayanan publik misalnya, permintaan maaf seorang operator melalui public speaker atas keterlambatan jadwal kereta atau pesawat tidak berarti apa apa tanpa kesadaran untuk mengidentifikasi masalah dan melakukan langkah langkah perbaikan sistem kerja dengan harapan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Diperlukan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan melakukan perbaikan perbaikan.

Dalam dunia manajemen dan bisnispun kita mengenal adanya istilah kaizen yang merupakan istilah dalam bahasa jepang yang diartikan sebagai continuous improvement atau perbaikan berkesinambungan. Filsafat kaizen berpandangan bahwa hidup kita hendaknya fokus pada upaya perbaikan secara terus menerus. Langkah perbaikan yang terus menerus ini harus melibatkan seluruh unsur didalam organisasi atau perusahaan,sebagai upaya untuk mencapai hasil yang sempurna dan memuaskan. Evaluasi terus menerus terhadap proses dan hasil akan menghantarkan kita mencapai hasil terbaik.

[Learn – Improved – Succeed ] juga merupakan salah satu filosofi yang berpandangan bahwa untuk mencapai kesuksesan yang kita cita citakan, kita senantiasa harus senantiasa belajar dan belajar sambil terus melakukan langkah2 perbaikan secara berkesinambungan.

Jadi, Mpok Minah menginspirasi kita untuk selalu ringan dalam meminta maaf kepada orang lain terlepas apapun posisi kita. Jangan sampai apa apa yang kita ucapkan atau lakukan melukai perasaan orang lain. Hati akan semakin lembut bila kita sering menghiasinya dg menyadari kesalahan kita dan selalu meminta maaf. Disamping itu, komitmen dan tindakan perbaikan yang berkesinambungan merupakan titik awal menuju kesuksesan.

Mohon Maaf dan Salam Perubahan

Nasrul Chair