Tag

, , ,

Sebagian dari kita seringkali senang dengan sesuatu yang berbau modern, apapun konteksnya, entah pakaian, potongan rambut, makanan, bangunan tempat tinggal, disain ruangan kantor, aksesoris/perhiasan sampai pada gaya hidup.

Hal tersebut diatas sangatlah lumrah karena istilah modern memang biasanya selalu dikonotasikan dengan konteks kekinian, perubahan, kontemporer, sesuatu yang baru, ngetrend, keren, perkembangan teknologi dan sesuatu yang terkesan lebih mudah, lebih praktis, lebih cepat, lebih efisien, lebih muda, lebih fancy dan lebih lebih lainnya. Sebagai lawannya adalah istilah istilah seperti konservatif, kuno, masa lalu, status quo, jumud, jadul atau istilah istilah lain yang sejenis yang terkesan norak, ribet, tidak efisien, lambat, birokratis-prosedural, old-fashioned, dan lain sebagainya.

Dari kamus wikipedia, istilah modern merujuk pada sesuatu yang “terkini” atau “baru” atau sejenisnya. Modern juga dapat berarti Modra, sebuah kota di Slovenia yang dalam bahasa Jerman diartikan sebagai modern. Sementara itu, dalam kamus besar bahasa indonesia, modern diartikan sebagai terbaru; mutakhir atau sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dng tuntutan zaman.

Dari sisi istilah saja, modern biasanya selalu dikonotasikan secara lebih baik dan lebih positif dari konteks sebaliknya tersebut walaupun bagi saya, tidak sepenuhnya melulu seperti itu. Setidaknya pengalaman saya beberapa hari lalu di dalam sebuah pusat perbelanjaan/mall yang cukup populer di Jakarta menggambarkan akan hal ini.

Ketika ingin, maaf, buang air kecil, saya menuju ke toilet yang terletak disisi belakang di lantai satu bangunan tersebut. Tempatnya cukup rapi, bersih dan nyaman serta terkesan modern dan minimalis. Namun sayangnya, tempat peturasan/urinoir untuk buang air kecil, tidak ada tombol khusus yang digunakan untuk mengeluarkan  air melainkan menggunakan sistem sensor tubuh. Sensor tersebut, secara otomatis akan memerintahkan urinoir tersebut untuk mengeluarkan air setelah si pengguna tidak lagi terdeteksi berada didepannya. Alhasil, air justru malah akan keluar dan membersihkan perangkat urinoir tersebut setelah pengguna meyelesaikan kegiatannya. Padahal, bagi saya, air justru diperlukan untuk membersihkan/bersuci dari hadas. Sampai saat ini saya tidak habis fikir dan muncul pertanyaan di benak saya, siapa yang awalnya punya ide seperti ini?. Nampaknya lebih praktis tapi sebenarnya tidak memenuhi fungsi yang seharusnya ada.

Untung saja, saya sudah cukup berpengalaman  akan hal tersebut berkat saran dari teman saya beberapa waktu yang lampau. Toilet modern tersebut memang kerap kita temui juga di hotel hotel berbintang di Jakarta. Dengan strategi yang diajarkan kawan saya tersebut, saya terpaksa “mengelabui” alat sensor dengan menggeser posisi sedikit ke arah samping kanan atau kiri (tergantung mana yang kosong) setelah menyelesaikan kegiatan tersebut, namun kemudian kembali lagi ke posisi semua setelah airnya keluar. Namun pastikan jangan sampai terlihat oleh orang lain. Yang jelas jangan coba coba mundur ya, selain mungkin sensor masih punya daya sensitifitas terhadap jarak tertentu, juga jangan sampai  tetangga sebelah  melihat organ penting kita tersebut.

Begitu selesai melakukan meeting dan hendak pulang, ternyata isu seputar toilet modern tersebut juga masih menjadi perbincangan hangat diantara saya dan sang supir. Sang supir tiba tiba berkomentar bahwa ia juga mengalami kesulitan yang sama setelah beberapa kali tidak menemukan tombol air yang biasanya ditemui di toilet kantor. Beberapa tetangga sebelahnyapun mengeluhkan hal yang sama katanya. Terjadilah cerita cerita lucu mengenai experiment experiment yang dilakukan baik oleh sang supir dan juga tetangga disebelahnya. Bahkan ia rela merubah posisinya lebih kedepan, atas saran tetangga disebelahnya, agar air yang diharapkannya keluar tapi ternyata tidak berhasil juga.

Pelajaran yang dapat kita petik dari cerita diatas adalah bahwa kita mesti terus beradaptasi dengan perubahan perubahan yang terjadi dengan cepat di lingkungan kita. Apa yang terjadi saat ini mungkin tidak pernah terbayangkan oleh kita sepuluh tahun lalu. Sebaliknya, apa yang akan terjadi sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang mungkin tidak/belum terbayangkan oleh kita hari ini.

Dalam konteks tersebut, kita dituntut untuk pintar pintar memilih dan memilah perubahan gaya hidup mana yang sesuai dengan ajaran ajaran, nilai nilai, prinsip2 hidup yang menjadi pegangan kita. Sesuatu yang modern dalam artian yang positif harus kita adaptasi seperti misalnya perkembangan teknologi. Namun sebaliknya, “modernisasi” yg kebablasan juga sebaiknya kita hindarkan.

Misalnya atas nama modern, banyak anak2 muda yang bergaya ala punk yang dianggap sebagai gaya anak anak muda jaman sekarang. Rambut dibuat kaku berdiri dan diberi warna warni, telinga ditindik anting anting, begitu juga hidung, bibir bahkan lidahpun tidak luput dari tindikan aksesoris aksesoris. Pakaian terkesan kumuh dan compang camping karena disobek di beberapa bagiannya. Rantai kalung juga menghiasi lehernya dengan maksud menambah efek kebringasannya. Gelang berukuran besar juga tidak pernah lepas dari pergelangan tangan bahkan kakinya. Wah, pokoknya terkesan revolusionerrr..

Dalam contoh kasus yang lain. Pada zaman kita kecil atau zaman orang tua kita, biasanya seorang anak sangat terkesan hormat kepada orang tuanya. Tutur katanya diatur sedemikian rupa agar tampil sopan. Namun saat ini kita sering menyaksikan kenyataan sebaliknya. Atas nama kemerdekaan, ia tampil seperti pemberontak yang susah diatur. Kata katanya pun terkadang tidak beretika lagi, bahkan sering membentak atau memarahi orang tuanya sendiri. Ia lebih rela mendengarkan saran teman2 gaulnya daripada arahan orangtuanya sendiri. Apakah ini yang disebut dengan modern?

Jadi sekali lagi, jadilah kita orang modern yang selalu mengikuti perkembangan zaman namun tidak lupa akan nilai nilai dan prinsip prinsip kebaikan yang seharusnya menjadi pegangan hidup kita.

Salam kebaikan,