Tag

, , ,

Ketika sedang asyik asyiknya berbincang bincang sambil menikmati makanan kecil yang disediakan diruang executive lounge di Bandara Ngurah Rai Denpasar-Bali, sebuah pengumuman terdengar samar samar di tengah riuh rendahnya ruangan pada saat itu. Intinya mempersilakan para penumpang dengan nomor penerbangan 411 jurusan Jakarta untuk melakukan boarding kedalam pesawat. Saya segera memutuskan untuk masuk kedalam antrian dan menunggu giliran pengecekan oleh petugas di depan pintu masuk.

Saya tiba tiba kaget, karena ternyata nama yang tercantum didalam boarding pass yang saya pegang adalah ternyata bukan nama saya melainkan nama teman sekantor saya dan saya baru mengetahuinya pada saat saya menyodorkan KTP asli saya kepada petugas tersebut. Alhasil saya digiring ke tempat disebelah antrian tersebut agar tidak mengganggu antrian yang ada.

Perasaan was was dan deg deg an tiba tiba menyerumuti hati saya. Jantung saya pun berdegup lebih kencang dari biasanya khawatir saya tidak diizinkan berangkat oleh petugas tersebut. Alangkah malu dan merasa kurang beruntungnya saya bila hal itu benar benar terjadi.

Saya tiba tiba juga merasa bersalah. Betapa tidak, saya merasa lalai sehingga tidak mengecek kembali boarding pass yang disodorkan oleh seorang agen yang ditugaskan oleh panitia. Saya bisa saja memaklumi kejadian tersebut. Hal tersebut mungkin saja terjadi karena faktor kelelahan setelah tiga hari berturut turut mengikuti serangkaian acara gathering yang diselenggarakan pihak kantor yang semuanya menguras energi fisik para peserta. Atau bisa juga karena saya terlalu percaya kepada sang agen sehingga saya tidak merasa perlu mengecek ulang atau bisa juga karena saya memang benar benar teledor dan tidak teliti pada saat itu.

Untung saja…petugas akhirnya mengizinkan saya ikut terbang dengan pesawat tersebut setelah beberapa kali ia terlihat sibuk menelepon kesana kemari agar masalah tersebut tuntas. Dan untung saja, waktu yang tersedia dalam proses klarifikasi tersebut masih cukup sehingga tidak mengganggu jadwal penerbangan.

Saya tidak bisa membayangkan andaikata akibat masalah saya tersebut, pesawat menjadi terlambat jadwal penerbangannya dan saya menjadi penumpang terakhir yang masuk kedalam pesawat. Mungkin teriakan “huuuuuuuu” dari penumpang lain sangat layak saya terima, pikir saya. Untung saja, masalah itu tidak terjadi.

Setelah duduk di seat yang tertera di boarding pass, perasaan was was tiba muncul lagi. Seorang petugas dengan alat Handy Talky (HT) ditangannya, tiba tiba menghampiri saya dan menanyakan boarding pass. Ini sekali lagi sangat tidak lazim, pikir saya. Biasanya penumpang sudah dapat mulai menikmati penerbangan pada saat ia duduk di seatnya dan tidak terganggu dengan kehadiran petugas semacam itu. “Jangan jangan saya disuruh turun lagi akibat masalah tadi” saya melamun.

Saya sempet membayangkan betapa malunya bila saya harus diturunkan dari pesawat gara gara permasalahan tadi. Dan untung saja, tidak terjadi apa apa seperti bayangan saya tersebut walaupun saya sempat merasakan khawatir sampai pesawat benar benar berangkat dari landasan. Dan untung saja…pesawat akhirnya berangkat sesuai jadwal dan saya masih tetap berada didalamnya.

Cerita tidak berhenti sampai disini. Begitu pesawat baru saja mendarat dan pesawat masih berjalan di landasan dengan kecepatan sedang, seperti biasa, para penumpang diminta untuk tetap menggunakan sabuk pengaman, dan tidak menghidupkan alat komunikasi apapun sampai pesawat benar benar berhenti dengan sempurna.

Tiba tiba saya merasakan getaran getaran di kantung celana kiri saya . Wah…ini pasti getaran handphone saya yang mungkin sudah mulai aktif lagi secara otomatis setelah mendapat sinyal yang cukup di landasan bandara. “Berarti saya tadi lupa mematikan handphone saat pesawat akan berangkat” pikir saya. Dan ini menambah daftar dosa saya pada hari itu. Rasa bersalah kembali hadir di dalam bathin saya.

Sambil merasakan getaran getaran handphone tersebut di saku, dengan rasa was was, saya terus menerus berdoa dalam hati moga moga hp ini tidak berdering yang menyebabkan penumpang lain tahu bahwa saya sebenarnya belum mematikan hp tersebut sewaktu mulai duduk di pesawat. Dan saya juga terus berdoa, jangan sampai tiba tiba ada orang yang telp saya pada saat itu yang menyebabkan hp saya berdering dengan kencang.

Andaikata itu terjadi, mungkin penumpang lain akan mengira bahwa saya tidak disiplin dalam mengikuti salah satu peraturan penerbangan tersebut. Saya tidak bisa membayangkan, apabila akibat hp yang lupa dimatikan tersebut, keadaan menjadi lebih fatal. Sinyal navigasi pesawat menjadi bermasalah, pesawat kehilangan kendali atau bahkan terjadi crash yang menyebabkan kecelakaan penumpang. Aduh..rasa berdosa itu mungkin akan jauh lebih hebat lagi dan pasti saya akan sangat sulit untuk memaafkan kesalahan saya sendiri tersebut. Dan untung saja, tidak terjadi apa yang saya bayangkan tersebut.

Rasa bersalah memang biasanya menyebabkan penderitaan bathin, sekecil apapun dosa/kesalahan yang kita lakukan. Ini memang sejatinya adalah karakter fitrah manusia yang wajar. Ini merupakan semacam alat sensor yang sangat sensitif didalam hati nurani kita. Semakin sensitif sensor ini bekerja, semakin baiklah ia. Artinya sekecil apapun kesalahan yang ia lakukan , ia senantiasa merasakan adanya getaran “penderitaan” bathin tersebut yang mengharuskan ia untuk mengakui, meminta maaf dan memperbaikinya.

Yang tidak wajar adalah apabila ada orang tetap merasa biasa biasa saja dan terkesan “menikmati” walaupun ia bergelimang dengan dosa dan kesalahan atau bahkan terkadang ia merasa bangga dengan kesalahannya tersebut.  Dengan segala tipu muslihat atau dengan bantuan pengacara, ia bisa saja mengelabui orang lain agar tetap dianggap tidak bersalah. Namun apakah ia bisa membohongi hati nuraninya sendiri?

Setiap dosa/kesalahan pada kenyataannya akan menimbulkan satu noktah/titik hitam didalam hati kita. Semakin banyak dosa/kesalahan yg dilakukan seseorang, maka semakin banyak juga titik/noktah yang menutupi hatinya. Apabila ia tidak melakukan pertobatan atas dosa/kesalahannya tersebut, maka bukan hal yang mustahil hatinya akan tertutup sehingga ia tidak bisa lagi menerima nasihat dari siapapun serta tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Hatinya menjadi semacam terkunci akibat dosa/kesalahan yg dilakukannya. Nauzubillah.

Salam Perubahan,