Tag

, , ,

Sebuah kongres sepakbola di sebuah negeri akan segera digelar. Agendanya adalah untuk memilih ketua umum dan anggota komite eksekutif yang akan duduk di kepengurusan mendatang. Arena kongres bukan berada di hotel mewah seperti di negara negara lain melainkan menempati sebuah gedung pertemuan milik Pemerintah daerah setempat. Lokasinya terletak di sebuah kota kecil yg jauh dari hingar bingar keramaian kota dan suasanya masih sangat teduh, rindang dan sejuk. Banyaknya pepohonan serta masih sedikitnya kendaraan yg berlalu lalang di daerah tersebut membuat udara terasa lebih segar.

Kenapa dipilih lokasi ini? Selain menghemat anggaran karena gedungnya gratis, Suasana nyaman di lokasi ini diharapkan mampu membuat peserta kongres membuat keputusan2 yang juga menyejukan. Daripada menghamburkan dana untuk penyelenggaraan kongres, dana sebaiknya lebih diprioritaskan untuk kegiatan pembinaan sepakbola nasional, panitia berdalih. Luarrr biasa.

Tidak ada publikasi yg berlebihan untuk acara tersebut. Hanya spanduk selamat datang berukuran besar serta beberapa umbul umbul yang dipasang di jalan raya untuk memberikan petunjuk bagi peserta kongres yang baru pertama kali ke lokasi tersebut. Beberapa media lokal serta nasional siap meliput acara tersebut karena event tersebut sangat penting dan diharapkan menjadi momentum kebangkitan sepakbola nasional yg tengah terpuruk belakangan ini.

Ada empat calon yg dijagokan untuk menjadi ketua umum organisasi sepakbola nasional tersebut. Ada Pak Derma, seorang pengusaha sukses di negeri itu, ada Pak Kukuh seorang mantan perwira militer, ada Pak Adil yang juga mantan petinggi birokrasi yang dikenal sangat sederhana serta Pak Jujur yang juga seorang pendiri sebuah komunitas sepakbola yg ada daerah dimana kongres itu berlangsung.

Entah kenapa, menjaring bakal calon ketua umum seakan menjadi pekerjaan terberat panitia kongres pada saat itu. Bukan karena terbatasnya jumlah orang2 yg kompeten dan berpengalaman di negeri itu melainkan karena sikap mereka yg tidak pernah ambisi terhadap posisi dan kekuasaan.

Setiap kali mereka ditawarkan untuk maju, mereka berdalih bahwa masih banyak calon lain yg dianggapnya lebih kompeten dan lebih berpengalaman dari mereka. Di negeri itu, jabatan bukanlah dianggap sebagai suatu prestise tetapi merupakan amanah berat yg harus dipertanggungjawabkan. Apalagi mereka menganggap bahwa mengangkat prestasi sepakbola nasional bukanlah pekerjaan ringan ditengah keterpurukan yang ada selama ini. Keempat kandidat diataspun harus sedikit dipaksa oleh anggota kongres sebelum akhirnya terpaksa bersedia menjadi bakal calon ketua umum.

Pada saat kongres berlangsung, seperti biasa, masing masing kandidat diminta menyampaikan visi dan misinya apabila terpilih menjadi ketua umum. Giliran pertama jatuh pada Pak Derma. Karena berlatarbelakang sebagai seorang pengusaha, Ia banyak memfokuskan pada upaya untuk meng-industrialisasi sepakbola tanah air. Olehkarenanya, Ia banyak menyoroti dan concern terhadap peningkatan jumlah dan kualitas fasilitas fasilitas sepakbola terutama stadion di setiap daerah. Mengingat kondisi keuangan negara yg terbatas, Ia akan berupaya untuk menarik investor2 potensial untuk mewujudkan visinya tersebut.

Kesempatan kedua adalah Pak Kukuh. dengan pengalaman sebagai perwira militer, Ia mengangap sepakbola sebagai salah satu alat perjuangan bangsa. Olehkarenanya, membangun kebanggaan dan semangat nasionalisme baik pemain, pelatih, maupun pengurus adalah menjadi prioritasnya. Baginya, sepakbola juga adalah alat pemersatu bangsa. Olehkarena itu sikap toleransi, sportivitas, dan mengutamakan persatuan adalah menjadi ruh dari setiap kebijakan yang akan diambilnya.

Pak Adil punya konsep yang berbeda. Ia menjelaskan bahwa membangun sepakbola nasional yg tangguh harus bermula dari sistem kompetisi yang berkualitas di semua level. Seluruh komponen baik pemain, pelatih dan pengurus bertanggungjawab untuk mematuhi aturan2 yang sudah ditetapkan. Tidak boleh ada jual beli skor atau politik dagang sapi disana. Integritas dan kejujuran adalah harga mati baginya.

Kini giliran calon ke empat yaitu Pak Jujur. Alih alih menjelaskan visi dan misinya seperti yang lain, Ia malah banyak bercerita mengenai latar belakang kehidupannya sehingga ia terpaksa mau mengikuti kongres tersebut sebagai salah satu calon ketua umum.

Dulu ia pernah punya anak laki laki satu satunya sebelum akhirnya meninggal pada umur sembilan tahun. Anak ini punya hobi bermain bola dan hampir setiap hari ia menghabiskan waktunya bersama teman2nya bermain bola di sebuah tanah kosong di dekat rumah. Ia hafal dan ngefans sekali dengan beberapa pemain2 bola nasional maupun internasional bahkan ia punya cita cita berprestasi seperti mereka.

Kejadian menyedihkan itu terjadi sekitar dua belas tahun lalu dimana anaknya tergores luka serius dan terkena infeksi akibat benda tajam semacam paku yang sudah berkarat pada saat bermain di tanah lapang tersebut. Maklum tanah tersebut dulunya bahkan sampai saat ini sisi sisinya masih digunakan sebagai area pembuangan sampah. Sehari setelah kejadian itu, lukanya mulai membengkak dan badannyapun mulai panas menggigil.

Dengan keterbatasan dana yang ada, Pak Jujur hanya membawanya ke puskesmas terdekat. Namun, lama kelamaan kondisinya akhirnya kian memburuk dan tepat sepuluh hari setelah kejadian itu, akhirnya nyawa anak tersebut dinyatakan tidak tertolong lagi..

Pupus sudah harapan anaknya itu untuk menjadi pemain sepakbola nasional. Pak Jujur dan isterinyapun sangat terpukul dengan kejadian itu. Kini ia harus tinggal berdua bersama istrinya di rumah yang masih sederhana itu.

Alih alih meratapi diri, Pak Jujur malah bertekad untuk menghidupkan kembali cita cita anaknya. Ia lalu menghibahkan petak sawah satu satunya yang dimilikinya untuk dijadikan lapangan sepakbola agar anak anak lain dapat bermain bola di tempat yang lebih layak dan tidak mengalami kejadian yang serupa seperti anaknya.

Dengan peralatan seadanya dan, biayanya sendiri, ia dan istri mulai merapikan lokasi tersebut. Penghasilan sebagai buruhpun sering ia sisihkan untuk melngkapi sarana yang ada seperti rumput, tiang gawang dan juga bola..

Anak anak sangat senang dan terlihat antusias bermain di lapangan baru yang sederhana itu. Ia juga akhirnya meminta salah satu mantan pemain daerah untuk melatih anak anak agar latihan mereka bisa terprogram. Komunitas sepakbola anak anakpun akhirnya terbentuk disana. Sekali lagi, itu atas inisiatif dan biayanya sendiri. Dan Alhamdulillah, beberapa anak didik dari komunitas tersebut saat ini sudah ada yang menjadi pemain top di daerahnya bahkan dua orang telah mengikuti seleksi pemain nasional.

Mendengar cerita ini, seluruh anggota kongres termasuk tiga kandidat merasa larut dalam suasana haru dan seakan terhipnotis dengan cerita Pak Jujur tersebut. Beberapa kali Pak Jujur sempat berkata kata dengan berat dan bahkan meneteskan air mata ketika menceritakan kejadian yang dialaminya tersebut.

Spontan, seorang anggota kongres berdiri dan memberikan applause untuk Pak Jujur. Ia bahkan tidak sungkan sungkan mengajak anggota lain untuk memilih Pak Jujur dengan alasan dedikasinya yang luar biasa demi kemajuan sepakbola di daerahnya. Kalau saja Pak Jujur diberikan kesempatan yang lebih besar, ia yakin Pak Jujur akan mampu berbuat yang lebih besar lagi demi kemajuan sepakbola nasional, kilahnya.

Pak Derma pun lantas berdiri, sambil memberikan tepukan aplause yang luar biasa, ia bahkan menyatakan dukungannya kepada Pak Jujur dan mengajak peserta kongres dan kandidat lain secara aklamasi menunjuk Pak Jujur menjadi ketua umum yang baru.

Melihat suasana persatuan dan persaudaraan yang kondusif seperti ini, Pak Kukuh dan Pak Adilpun akhirnya memberikan dukungan yang sama. Mereka semua mendukung kepemimpinan Pak Jujur untuk periode mendatang bahkan siap membantu dengan segala tenaga, dana dan pikirannya untuk keberhasilan tersebut.

Alhasil, semua peserta akhirnya secara aklamasi menyetujui penunjukan Pak Jujur. Dalam sambutannya, Pak Jujur menekankan kebersamaan serta mengajak tiga kandidat lain untuk bergabung dalam kepengurusan yang akan dibentuknya. Ide ide cemerlang mereka sangat diharapkan demi keberhasilan sepakbola nasional, ujarnya.

Ah sayangnya…semua ini ternyata hanya sebuah ilusi…..

Salam sukses