Tag

, , ,

Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan pilihan keputusan kehidupan dari mulai bangun tidur sampai kita tidur kembali. Mulai dari pilihan mau bangun pagi jam berapa, menu makanan apa yang akan kita santap di pagi hari, pakaian apa yang akan kita kenakan, moda transportasi apa yang akan kita gunakan untuk ke kantor, agenda2 meeting apa yang perlu dijadwalkan, prioritas pekerjaan yang harus dilaksanakan segera, koran yang harus dibaca, dan sampai pada hal2 kecil seperti jam berapa kita hendak istirahat/tidur selepas pulang kantor, dan lain sebagainya. Dan setiap pilihan pastilah memiliki konsekuensinya masing masing.

Namun sayangnya, semua hal tersebut diatas sepertinya sudah menjadi rutinitas sehari hari yang seolah2 sudah di pre-set didalam otak bawah sadar kita (concisious mind) dan secara tidak langsung sudah menjadi “default” condition dalam hardware otak kita. Semua terasa begitu mengalir begitu saja layaknya air yang bergerak dari hulu ke hilir.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan bahkan tahun berganti tahun, semua serasa tidak ada sesuatu yang berbeda secara signifikan.Waktu serasa berjalan begitu cepatnya sampai sampai kita tidak menyadarinya kalau umur kita semakin bertambah bahkan ajal mungkin sudah semakin dekat.

Di pagi hari biasanya kita mempersiapkan diri menuju tempat kerja masing masing dimulai dari bangun pagi, mandi, dan sarapan. Diperjalanan kita harus bergumul dengan kemacetan dimana mana. Setelah sampai tempat kerja, kita disibukan dengan kegiatan kegiatan rutin yang sudah menjadi “job desc” kita, mungkin menjawab email yang masuk, mungkin mempersiapkan presentasi atau laporan, mungkin menyusun rencana kerja, mungkin melayani customer, atau mungkin menghadiri serangkaian meeting baik internal atau dengan pihak eksternal. Macet kembali menjadi biang kerok pada saat perjalanan pulang ke rumah sehingga banyak orang menjadi merasa “tua” di jalan.

Bosan! Itulah kata kata yang sering muncul didalam benak dan diri kita. Bagaimana tidak, hampir setiap hari kita selalu melakukan hal hal yang relatif sama. Dan itu dilakukan secara rutin dan berulang ulang, entah di rumah, entah di tempat kerja kita atau di tempat lain. Pikiran terasa mandeg dan tidak ada ide.

Tidak heran apabila banyak orang yang menumpahkan segala uneg uneg kegalauannya tersebut melalui jejaring sosial media seperti facebook atau twitter.

“Bosaaaan, malaas, cuaapeeek, jenuuh, pegeel, dan keluhan keluhan sejenisnya kerap kita temui di akun akun milik mereka. Mereka seakan tidak peduli apakah kalimat kalimat didalam akun tersebut dapat menarik komentar2 yang positif atau malah justru mencitrakan dirinya sebagai pribadi yang hobi dan rajin mengeluh.

Pertanyaannya adalah apakah setiap orang pernah mengalami keadaan seperti itu? Jawabannya pasti iya. Sebagai manusia biasa, kita memang pasti dihadapkan pada dua situasi yang saling bertolak belakang. Adakalanya senang dan adakalanya susah , Ada tawa ada tangis, ada bahagia ada sengsara, ada perasaan suka ada perasaan marah, adakalanya semangat dan adakalanya lelah/bosan dan sebagainya.

Lalu bagaimana menyiasati rasa bosan dan jenuh tersebut? Ada banyak strategi dan tips yang bisa kita lakukan untuk mengatasi situasi diatas, diantaranya adalah:

1. Ciptakan tujuan tujuan hidup kita. Bisa jadi, kebosanan dan kejenuhan kita selama ini diakibatkan oleh tidak adanya arah yang jelas, mau kemana hidup kita. Semua serba asal mengikuti rutinitas saja dan tidak punya tujuan dan target. Bagi yang sudah memilikinya namun belum jelas implementasinya, silakan “direfresh” dan update lagi tujuan tujuan hidup kita. Pertanyaan mendasar sebagai pedoman dalam menentukan tujuan hidup adalah misalnya : mau jadi apa kita lima, sepuluh, limabelas atau bahkan duapuluh tahun kedepan. Mau dikenang sebagai apa kalau kita sudah meninggal atau pertanyaan “warisan” apa yang akan dikenang orang sepeninggal kita. Silakan ditulis tujuan2 tersebut dan ditempel ditempat yang mudah terlihat agar kita selalu diingatkan untuk mencapai hal tersebut.

2. Mantapkan komitmen dan motivasi. Cari alasan alasan yang kuat yang bisa menggerakan kita menuju tujuan hidup kita diatas. Mungkin keadaan ekonomi kita yang belum beruntung dimana kita ingin segera berlepas darinya, mungkin orangtua yang butuh dukungan finansial kita, mungkin masih banyak saudara yang harus kita bantu, atau mungkin anak anak kita yang butuh pendidikan yang lebih layak, dsb.

3. Lakukan hal-hal baru untuk memecah kebuntuan dan kebosanan. Bagi anda yang biasa berkendara mobil menuju tempat kerja, cobalah jalur/rute baru yang berbeda dari biasanya atau cobalah moda transportasi lain seperti bis umum, busway atau kereta. Bagi anda yang jenuh dengan rutinitas harian ditempat kerja yang itu itu saja, coba bantu rekan anda lintas bagian atau coba melibatkan diri dalam kegiatan2 lain misal kegiatan sosial atau komunitas di tempat anda. Sebagai tambahan, kita dapat juga menambah kenalan kenalan baru dan berinteraksi dengan mereka atau juga mengkontak teman2 lama untuk sekedar menyegarkan pikiran kita.

4. Rehat sejenak dari aktivitas anda dan lakukan kontemplasi/perenungan walau sesaat. Liburan atau rekreasi juga dipercaya dapat membantu menyegarkan kembali semangat kita dari kejenuhan.
Rekreasi tidak perlu yang berbiaya mahal seperti liburan keluar kota atau bahkan keluar negeri. Rekreasi dapat dilakukan ditempat2 yang bernuansa berbeda dari lingkungan kita sehari hari. Bagi pekerja kantor di ibukota misalnya, suasana kampung/pedesaan yang sejuk biasanya menjadi tempat yg favorit bagi keluarga.

Jadi, untuk mencapai sukses, kita perlu terus semangat mengejar tujuan kita, memantapkan motivasi serta melakukan hal-hal baru agar tidak terhindar dari kebosanan hidup. Bila keadaan belum juga kondusif, untuk menghindari rasa frustasi, kita perlu melakukan rehat sejenak dan kontemplasi agar segala beban dipasrahkan kepada Yang Maha Kuasa.

 

 

Salam semangat