Tag

, , , , , ,

Setiap kali melewati pasar di bilangan Jombang Ciputat, semua orang pasti akan merasakan bau yang tak sedap. Ya memang, tepat di depan pasar itu, terdapat tumpukan sampah yg menggunung setiap harinya. Selain menyebabkan bau tak sedap, tumpukan sampah tersebut juga menimbulkan kemacetan di pagi hari karena tumpukan sampah tersebut juga  menempati badan jalan yang seharusnya dipakai oleh para pengendara mobil dan motor yang melintasi wilayah tersebut.

Olehkarenanya, mereka, khususnya yang melintasi daerah tersebut, selalu menutup indera penciumannya baik dengan masker, sapu tangan, tissue, baju atau bahkan hanya dengan tangannya sendiri sekalipun. Lain halnya dengan para pedagang dan tukang parkir yg sehari-hari bekerja disana. Mereka nampak seperti biasa biasa saja, sudah tidak sensitif lagi, seakan tidak merasakan bau apa apa. Bahkan ada diantara mereka yg makan dengan nikmatnya disamping tumpukan sampah tersebut. Mungkin juga karena situasi keterpaksaan.

Hal tersebut menggambarkan bahwa ternyata satu kondisi yang sama dapat disikapi secara berbeda beda oleh orang yg berbeda. Orang-orang yang hanya sebatas melintas hampir pasti memproteksi indera penciumannya dengan apapun agar tidak mencium bau tak sedap tersebut. Namun tidak bagi orang-orang yang sehari-hari berada di lokasi tersebut. Mereka seakan-akan sudah kebal dengan kondisi tersebut dan hilang daya sensitivitasnya. Mereka terjebak dengan “comfort zone” mereka sendiri dan seakan tidak merasakan perubahan dan tidak perlu perubahan.

Terkadang, ada diantara kita juga yang mungkin mengalami hal yang sama baik dilingkungan rumah atau di tempat kerja. Keasyikan kita di suatu keadaan “comfort zone”  membuat kita lupa bahwa lingkungan kita sebenarnya sudah berubah dengan cepat. Apa yang kita alami dulu mungkin sudah jauh berbeda dengan keadaan saat ini. Apa yang dialami kita saat ini mungkin akan sangat jauh berbeda dengan yang akan dialami anak anak kita dimasa depan. Perkembangan teknologi yang demikian dahsyat telah banyak mengakibatkan perubahan2 besar seperti perubahan gaya hidup, pergaulan, cara berbelanja, cara berkomunikasi dan sebagainya. Olehkarenanya cara cara kita dalam menyelesaikan tantangan/permasalahan hidup (the way to solve the problems) juga sebaiknya berubah. Diperlukan kreativitas dan inovasi-inovasi baru untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

Saya jadi teringat dengan kisah seorang pemotong kayu di sebuah hutan. Bertahun tahun lamanya ia memotong kayu hanya menggunakan sebilah kapak yg ia dapatkan sejak zaman orang tuanya. Lama kelamaan hasil yg ia dapatkan makin menurun terus dibandingkan tahun2 sebelumnya. Bahkan ia mulai menyalahkan kondisi pepohonan tersebut yang dianggapnya lebih keras dibanding pohon pohon yg ditebangnya beberapa tahun sebelumnya. Padahal bukan pohonnya yang lebih keras melainkan karena kapak yang ia gunakan tidak secara rutin diasah. Lagipula dia juga tidak paham bahwa di luar sana, sudah ada teknologi baru dan alat alat baru untuk memotong kayu tersebut yang sudah berbeda dg zaman orang tuanya dulu. Andaikata pemotong kayu itu senantiasa membuka pikirannya (open mind) dan sensitif terhadap perubahan2 tersebut, maka hidupnya pasti akan lebih mudah karena hasil pekerjaannya terus meningkat.

Jadi alangkah baiknya jika kita bersikap terbuka, menyadari setiap perubahan yang ada didalam diri dan lingkungan kita, mengantisipasinya serta menyikapinya secara bijak untuk hal-hal yang positif. Perubahan bukanlah sebuah ancaman tetapi merupakan tantangan agar kita terus berupaya menjadi lebih baik lagi. Be creative..

Salam perubahan