Tag

, ,

Sudah satu tahun lebih orang tua kami tinggal di wilayah yang sangat dekat dengan rumah kami. Kami sengaja membeli sebuah rumah dan “memindahkan” orang tua ke tempat tersebut dengan harapan agar kami bisa selalu dekat dengan keduanya. Maklum, kondisi orang tua yang sudah sangat tua, membuat kami merasa harus senantiasa menjaga dan dekat dengannya. Tahun lalu, kami sekeluarga berlebaran di rumah barunya tersebut dan semua keluarga besar Alhamdulillah hadir disana.

Tahun ini ternyata berbeda. Sebelum Ramadhan, beberapa kali orang tua menyampaikan bahwa mereka ingin berlebaran di rumah lamanya yg sebenarnya juga tidak terlalu jauh dari tempat tinggal sekarang. Hanya dibutuhkan waktu maksimal 30 menit untuk mencapainya karena masih berada di bilangan Jakarta. Intinya mereka menyatakan kepingin “mudik” ke rumah lamanya tersebut. Olehkarenanya, secara sembarangan, saya mengistilahkannya sebagai mudik terdekat di dunia.

Awalnya keputusan “mudik” tersebut disayangkan oleh sebagian anak anaknya karena rumah lamanya dianggap sudah kurang “layak huni” karena memang sudah tidak terurus dengan baik. Namun orang tua kami tetap bersikukuh untuk berlebaran di rumah lamanya tersebut. Batasan batasan fisik nampaknya tidak menjadi tolak ukur buat mereka. Bagi keduanya, yang penting adalah dapat berlebaran di rumah yg sudah dihuninya sejak kecil tersebut dan bertemu sahabat dan saudara saudaranya disana sewaktu lebaran. Bisa jadi, banyak memori memori yang sudah terekam didalam rumah tersebut yang membuatnya jatuh hati. Ikatan emosional inilah yang ternyata menjadi esensi dari perjalanan mudik seseorang.  

Pulang kampung atau mudik adalah tradisi yang sudah lama ada dalam masyarakat kita di Indonesia khususnya setiap menjelang hari raya idul fitri. Beragam moda transportasi digunakan baik melalui pesawat udara, kereta api, bis umum, mobil pribadi bahkan banyak pula yang memutuskan mudik menggunakan sepeda motor.

Lamanya waktu tempuh dan panjangnya jarak perjalanan bukanlah menjadi masalah. Ada yang hanya menempuh waktu 5-6 jam tapi bahkan ada juga yang memerlukan waktu lebih dari 24 jam perjalanan. Ikatan emosional dengan kampung kelahiran dan kerinduan untuk bertemu dengan keluarga dan sahabat2 lama telah mengalahkan rasa capek dan lelah akan lamanya perjalanan tersebut.

Beragam keramaian dan kesibukan menyelimuti masyarakat kita sebagai upaya mempersiapkan mudik tersebut. Pasar pasar dan mall ramai sejak datangnya bulan Ramadhan. Tingkat konsumsi masyarakat juga meningkat seiring dengan persiapan2 tersebut seperti membeli pakaian baru, mempersiapkan kendaraan, membuat makanan, menyiapkan oleh oleh dan sebagainya. Selain menyebabkan tingkat inflasi yang lebih tinggi, kehadiran bulan Ramadhan dan tradisi mudik ini juga dipercaya menjadi salah satu pemicu tumbuhnya roda perekonomian kita. Maklum sebagian besar pertumbuhan ekonomi di negeri kita masih dipicu tingkat konsumsi masyarakat.

Yang patut kita renungkan adalah, untuk perjalanan mudik yg hanya menempuh jarak ratusan kilometer dan membutuhkan waktu dalam hitungan jam atau hari, kita begitu sibuk memersiapkannya, maka bagaimana dengan perjalanan mudik kita ke negeri akhirat. Apakah kita sudah secara serius mempersiapkannya dan bekal apa yang sudah kita siapkan untuk negeri yang kekal abadi tersebut.

Selamat mudik

“seorang hamba yang masih belum sempurna mempersiapkan mudik ke kampung akhirat”