Tag

, ,

Dalam tradisi masyarakat betawi, penggilesan merupakan perkakas yg sangat familiar bagi mereka. Ia terbuat dari sebilah kayu dan dibuat bergelombang tajam pada sisi atas permukaannya.

Fungsinyapun sangat sederhana yaitu sebagai alas untuk mencuci pakaian. Kita tinggal meletakan pakaian yg sdh diberi sabun diatasnya lalu menggilasnya sampai bersih diatas penggilasan tersebut. Dulu mesin cuci memang tidak sepopuler seperti sekarang ini karena harganya yang relatif lebih mahal dibanding sebuah penggilasan yg harganya cuma berkisar puluhan ribu rupiah.

Sesuatu biasanya dianggap ajaib apabila ia bisa melakukan sesuatu diluar fungsinya atau bisa menimbulkan hal-hal yg tidak biasa, atau cenderung aneh. Sama halnya seperti penggilesan ini.

Seorang kakek hendak membawa penggilasan yg ada dirumahnya untuk diberikan kepada istri keduanya. Sebenarnya hal tsb bukanlah menjadi masalah karena penggilesan tsb memang dilihatnya tidak terpakai lagi di rumah istri pertamanya tsb. Namun tidak adanya komunikasi antara keduanya dalam “mengeksekusi” penggilesan tsb menimbulkan sikap menggerutu dari sang istri pertama.

Si istri pertama menyayangkan sikap sang kakek yg dianggapnya lebih mementingkan kebutuhan istri keduanya. Terlebih ia tidak meminta persetujuannya lebih dahulu sebelum membawa penggilesan tsb. Sementara sang kakek rasanya bersikukuh bahwa ia tdk perlu meminta persetujuan siapa2..”Wong, cuma penggilesan doank kok, masak sih dipermasalahkan” mungkin itu yang ada dalam benaknya.

Adanya communication gap antara sang kakek dan istri pertamanya tersebut menunjukan bahwa masalah penggilesan telah telah menjadi alat pemicu ketegangan baru diantara keduanya. Walaupun dalam skala yg masih relatif kecil, keduanya kadang rela saling menggerutu bahkan mungkin saling tidak bertegur sapa hanya gara gara masalah penggilesan tersebut.

Episode kehidupan manusia memang terkadang terasa aneh. Banyak masalah2 besar diantara kita justru disebabkan oleh hal hal yang sebenarnya relatif kecil namun tidak terkelola dengan baik.

Gara2 sms yg diterima seorang suami dari seorang teman lamanya bisa jadi menimbulkan konflik besar dlm rumah tangga seseorang, bahkan bisa berujung pada perceraian. Padahal mereka sdh menjalani rumah tangga selama bertahun tahun.

Dalam kasus lain, seorang pemuda juga rela membunuh pemuda lain gara gara emosi lantaran tersundut sebatang rokok secara tidak sengaja. Atau perkelahian antar kampung yg tidak pernah reda yg disebabkan oleh sebuah cek cok kecil diantara warga kedua kampung tsb. Atau sang suami berani membanting piring makanannya dan membentak bentak istrinya gara gara sang istri lupa memberi garam pada masakannya. Nauzubillah.

Emosi emosi emosi. Itulah mungkin jawabannya. Sikap egois dan emosi yg berlebihan nampaknya dapat menjadi bahan bakar yg dapat menyulut permasalahan2 tsb diatas.

Dalam keadaan emosi, orang biasanya tidak dapat melakukan pengendalian diri (self control) padahal self control inilah justru yg bisa membuat kita seorang yang kuat dan akhirnya menjadi pemenang. Dalam olahragapun, tim yg berhasil mengontrol/menguasai permainan lawannya biasanya menjadi tim pemenang.

Pengendalian diri dalam diri seseorang dapat merubah rasa marah, rasa mau menang sendiri, sikap egois, tertutup, dendam, iri, dengki, dan sebagainya agar digantikan dengan sikap empathi, terbuka, tepo seliro, toleran, introspeksi diri, menghargai pendapat orang lain, saling kasih sayang dsb.

Orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan diri dan menahan amarah.

Salam pengendalian diri

Nasrul Chair