Tag

, , , ,

Dalam sebuah rapat, peserta berdiskusi tentang rencana2 kerja untuk sebuah acara yang sebelumnya telah disepakati bersama. Pro dan kontra mulai terjadi ketika isu yang paling krusial, yaitu masalah biaya/pendanaan, dibahas.

Hampir sebagian besar waktu terkuras untuk membahas masalah ini. Waktu yang mepet, momentum yang kurang tepat, sasaran yang terlalu meluas, dsb adalah beberapa argumentasi yg menjadi sentral penolakan dari beberapa peserta rapat tersebut. Kalimat bernada pesimis mulai ramai ketika semua peserta diminta partisipasi dlm hal pencarian dana. Dengan keterbatasan2 kondisi yang ada, intinya mereka merasa ragu ragu dan tidak yakin bahwa dana yang dibudgetkan akan terwujud.

Ditengah perdebatan tersebut, ternyata ada saja peserta yang masih tetap optimis bisa mencapai target yg dibebankan kepadanya. Ia kemudian mengambil selembar kertas dan menuliskan daftar target/sasaran yang akan dituju. Daftar tersebut menjadi semacam rencana kerja baginya. Kontan saja, hal ini menimbulkan aplause dari sebagian besar peserta rapat. Apalagi pernyataan bernada optimis tersebut justru datang dari seseorang, yang secara penampilan, sangat sederhana dan nampak kalah intelek dibanding peserta lain yang rata2 orang kantoran atau pernah jadi orang kantoran.

Intelektualisme memang biasanya erat kaitannya dengan rasionalitas dan penggunaan nalar dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Orang yang cenderung intelek dan tidak diimbangi dengan kecerdasan lainnya seperti kecerdasan sosial dan spiritual, cenderung selalu menggunakan kalkulasi2 yang berdasar pada logika semata.

Dalam kondisi ini, setiap kendala dan keterbatasan2 yang ada akan dianggapnya sebagai justifikasi/alasan untuk tidak bisa berbuat secara optimal sehingga tidak dapat mencapai hasil yang diharapkan. Walaupun sebenarnya ia belum mencobanya. Ia nampak ingin terkesan lebih “realistis” padahal aslinya mungkin pesimis.

Keadaan ekonomi yang sulit, perekonomian global yang diambang kebangkrutan, inflasi yang tinggi, penegakan hukum yang carut marut, tingkat korupsi yang merajalela di negerinya dan hal hal negatif lainnya seakan memperparah persepsinya dan pada gilirannya akan menambah rasa takut, was was, khawatir, apatis, pesimis dan sebagainya. Padahal sebagian mereka justru adalah orang2 dengan strata sosial yg cukup baik dan tergolong orang2 yang berpendidikan tinggi.

Rasa khawatir yang terlalu tinggi dalam hal rejeki misalnya, membuat mereka rela menghalalkan segala cara demi mempertahankan posisinya. Dan mereka mau melakukan apa saja asal atasannya senang.

Beberapa hari lalu, sebuah stasiun tv menayangkan ulang program Kick Andy yang bertemakan “ketika hati bicara”. Dalam tayangan tersebut, narasumbernya adalah orang2 yang merelakan diri membantu orang lain walaupun ia sebenarnya dalam kondisi yang juga sangat membutuhkan pertolongan. Narasumber tsb adalah juga orang2 yg pernah masuk dalam tayangan sebuah program reality show “Minta Tolooong”.

Dalam sebuah tayangan video, seorang laki-laki yang cacat kakinya bersedia membantu seorang ibu utk mengantar sebuah paket makanan. Ibu ini terpaksa minta bantuannya karena ia harus segera pulang kampung karena anaknya dikabarkan sakit. Setelah mencari kesana kesini, mencoba meminta kepada beberapa orang yang ditemuinya, ternyata hanya laki laki cacat inilah yang bersedia membantu.

Dengan menggunakan dua tongkat, laki laki cacat ini kemudian naik turun angkutan kota lalu naik ojek menyusuri gang gang kecil untuk mencapai alamat tsb. Dan hal ini semuanya dilakukan dengan biayanya sendiri. Luarr biassa..Padahal saat itu, ia hanya memegang uang tak lebih dari tiga ribu rupiah. Karena sdh terlanjur memegang janji dengan si ibu tadi, ia rela pulang kerumah terlebih dahulu untuk meminta ongkos pada istrinya. Subhanallah.

Narasumber lain, katakanlah pak Somad, adalah seorang supir angkot. Ia sedang termenung dipinggir jalan karena memikirkan biaya anaknya yg terkena kanker ganas. Entah apa yang akan diperbuatnya. Tatapan matanya serasa kosong dan menerawang jauh entah kemana. Tiba tiba seorang nenek lalu mendekatinya dan menawarkan ikan asin hasil pulungannya untuk dibeli. Aslinya ikan asin tersebut pastilah tidak layak dibeli namun nenek ini sangat butuh uang tsb untuk membeli beras karena persediaan dirumah sdh habis.

Alhasil pak Somad bersedia membantu si nenek. Ia lalu mengajak si nenek ke sebuah toko dan membelanjakan uang dikantongnya untuk dibelikan beras 10 kg dan minuman untuk si nenek. Total belanjaanya sekitar Rp. 81.000 padahal saat itu ia hanya mengantongi uang tidak lebih dari Rp. 85.000.
Berarti uang yang tersisa dikantongnya hanya empat ribu rupiah.
Ia rela membantu si nenek walau sebenarnya ia juga sedang pusing memikirkan bantuan untuk anaknya. Sungguh mulia hati pak Somad ini.

Dalam tayangan lain, dengan alasan ingin membantu orang, seorang ibu yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga juga merelakan sebagian besar persediaan uangnya utk membeli sebuah piala bekas yg dijual seorang anak karena butuh untuk membeli beras keluarganya.

Dari wawancara dg ketiga narasumber diatas, nampak bahwa mereka punya keinginan kuat untuk membantu orang lain terlepas apapun kondisi yang menyelimutinya. Ketika ditanya sang host “kok bisa2nya bpk/ibu bantu mereka padahal ibu juga sedang kekurangan dan membutuhkan bantuan?” Jawabnya kurang lebih sama yaitu mereka hanya ingin membantu. Itu saja. Ada perasaan emphati terhadap penderitaan orang lain. Ketika ditanya bagaimana dengan nasib dirinya nanti, mereka justru mempasrahkan kepada Yang Maha Kuasa

Tayangan dan cerita diatas mungkin telah meruntuhkan kalkulasi kalkulasi logika yang mungkin ada dalam benak diri kita. Dalam kondisi sulit, mereka tetep bisa membantu dan tidak khawatir akan nasib dirinya. Ada nuansa kepasrahan yang tercermin dari muka muka mereka. Kecerdasan sosial dan spiritual mereka telah menampar logika logika kita yang merasa sebagai kaum intelektual yg terkadang hanya memikirkan dirinya sendiri.

“Inilah calon calon penghuni syurga” ujar saya kepada istri sesaat setelah menyaksikan acara tersebut.
Mereka tetep optimis dengan kehidupannya, pasrah kepadaNya dan selalu ingin membantu sesama.

Salam optimis selalu

Nasrul Chair