Tag

, , ,

“Keyakinan bahwa sukses menjadi penyebab kebahagiaan (happiness) salah. Penelitian terkini dalam Psikologi Positif membuktikan yang benar adalah sebaliknya: kebahagiaanlah yang menyebabkan kesuksesan.” Demikian ditandaskan oleh Shawn Achor dalam bukunya, The Happiness Advantage (2010). Achor adalah konsultan bisnis dan dosen mata kuliah Happiness di Harvard University, Amerika Serikat. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah terfavorit di Harvard saat ini, mengalahkan mata kuliah Bisnis Internasional yang selama ini selalu menjadi primadona.

Kajian mengenai kebahagiaan ini sesungguhnya bukan hanya diminati mahasiswa Harvard, tetapi juga banyak pelaku bisnis di AS. Penelitian terbaru membuktikan, mereka yang datang ke kantor dengan bahagia akan mengerahkan energi mereka semaksimal mungkin untuk mencapai kesuksesan. Tenaga penjual yang bahagia, sebagai contoh, mampu menjual 56% lebih banyak daripada yang tidak bahagia.

Achor sesungguhnya bukanlah pelopor dari ilmu kebahagiaan ini. Ia adalah murid Tal Ben-Shahar, penulis buku Happier(2007), dan Martin Seligman, penulis buku Flourish (2011). Seligman merupakan pakar psikologi yang sangat dihormati di AS dan dikenal sebagai Bapak Psikologi Positif. Saya beruntung bisa bertemu langsung dengannya dalam Happiness Conference yang diadakan di Sydney, Australia, awal Maret lalu. Sesungguhnya sebelum pertemuan itu saya sudah menjalin korespondensi dengannya dan mengikuti pemikiran-pemikirannya, terutama sejak bukunya, Authentic Happiness, diterbitkan (2002).

Benang merah pemikiran Seligman adalah bagaimana memanfaatkan psikologi sebagai cara untuk meningkatkan kebahagiaan dalam hidup. Inilah yang disebutnya sebagai Psikologi Positif yang berbeda dari ilmu psikologi pada umumnya yang lebih melihat psikologi sebagai alat untuk menyembuhkan trauma dan penyakit-penyakit kejiwaan.

Walaupun memiliki kontribusi yang cukup besar dalam memosisikan happiness as a science, Seligman sesungguhnya lebih suka disebut sebagai ahli Psikologi Positif. Ia bercerita kepada saya bahwa kariernya selama 40 tahun sebagai psikolog tidaklah membahagiakannya. “Psikologi sering berhubungan dengan gejala-gejala kejiwaan yang sulit membuat saya bahagia, tetapi dengan berkecimpung di dunia Psikologi Positif saya jauh lebih berbahagia dan dapat membahagiakan orang lain, “ katanya. Memang, tugas Psikologi Positif adalah menciptakan kebahagiaan dalam hidup dan pekerjaan kita. Untuk itu, Seligman memelopori program Master of Applied Positive Psychology (MAPP). Yang menarik, sebagian besar peserta program S-2 ini berlatar belakang konsultan bisnis yang ingin memanfaatkan Psikologi Positif untuk memberikan dampak pada berbagai perusahaan yang menjadi klien mereka. Keberhasilan program di University of Pennsilvania inilah yang membuat Seligman mengusahakan untuk membuat program MAPP di Australia dalam waktu dekat.

Banyaknya profesional yang mengambil studi MAPP untuk menerapkan happiness dalam perusahaan sesungguhnya hanya sebagian kecil dari fenomena merebaknya kesadaran akan pentingnya kebahagiaan sebagai faktor utama pencapai kesuksesan. Di AS sendiri saat ini kebahagiaan di tempat kerja memang menjadi salah satu isu terpenting yang banyak diperbincangkan. Dalam konferensi American Society for Training and Development yang saya hadiri tahun lalu di Orlando, AS, isu yang paling dominan adalah masalah engagement. Banyak perusahaan yang mengeluh karena karyawan mereka tidak fokus dalam pekerjaannya sehingga gagal memberikan kinerja terbaik. Penelitian di AS membuktikan bahwa hanya 29% karyawan yang benar-benar engaged. Bagian terbesar, yaitu 54% karyawan, masuk kategori not engaged, sementara 17% sisanya adalahactively disengaged.

Penyebab utama ketidakterlibatan karyawan ini adalah karena mereka tidak bahagia di tempat kerja. Mereka melihat pekerjaan sebagai setumpuk tugas dan kewajiban, bukannya sebagai sesuatu yang mencerahkan, apalagi membahagiakan. Mereka sama sekali tidak menikmati pekerjaan mereka saat ini.

Maka, pekerjaan rumah bagi banyak perusahaan sesungguhnya adalah bagaimana menciptakan kebahagiaan di tempat kerja. Ini bukannya tanpa masalah karena selama ini sudah tercipta berbagai persepsi yang salah mengenai kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan lebih sering dilihat sebagai urusan pribadi, bukan urusan organisasi. Kedua, kebahagiaan dilihat sebagai sebuah konsekuensi dari kesuksesan dan bukan sebagai faktor terpenting untuk mencapai kesuksesan. Ketiga, masih banyak orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan hanyalah sesuatu yang akan terjadi dengan sendirinya, dan bukan merupakan sebuah ilmu (science).

Ketiga paradigma ini masih sering kita jumpai, padahal di AS sekarang happiness sudah dianggap sebagai salah satu alat (tool) yang sangat penting dalam pencapaian target dan kinerja perusahaan.

Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan di sini. Dalam bukunya, Achor bercerita tentang banyak perusahaan yang kinerjanya menurun dan setelah ditelusuri lebih dalam penyebab utamanya adalah karena karyawannya tidak bahagia di tempat kerja. Seligman bahkan pernah diminta menangani sebuah perusahaan asuransi di AS yang mengalami kerugian sampai US$ 75 juta dalam setahun karena banyak agennya yang berhenti kerja setelah mengalami penolakan dari calon pelanggannya. Penelitian Seligman ternyata membuktikan bahwa penyebab utama kegagalan sesungguhnya bukanlah pada penolakan itu sendiri, tetapi pada bagaimana para agen memaknai penolakan tersebut.

Bagi agen yang bahagia dan optimistis, penolakan dianggap sebagai tantangan yang bersifat temporer, dan sama sekali tidak terkait dengan keahlian mereka. Sementara bagi agen yang pesimistis, penolakan ditafsirkan sebagai penilaian orang terhadap kemampuan menjual mereka yang buruk. Perbedaan dalam memaknai penolakan itulah ternyata yang merupakan faktor terpenting yang menentukan keberhasilan mereka. Penemuan penting ini akhirnya dijadikan sebuah standar baru dalam perekrutan agen. Kalau sebelumnya agen direkrut berdasarkan keterampilan mereka dalam menjual, sekarang dasar perekrutan agen adalah sikap mental dan tingkat kebahagiaan mereka.

Kesadaran akan pentingnya happiness sebagai faktor penentu keberhasilan pada perusahaan-perusahaan di Indonesia menurut pengamatan saya sampai hari ini masih berada pada tahap yang sangat awal. Masih banyak perusahaan yang melihathappiness dengan sebelah mata. Bahkan, masih ada persepsi bahwa kebahagiaan di tempat kerja membuat orang menjadi tidak produktif. Mereka yang berpandangan seperti ini mengatakan bahwa tugas para pemimpin perusahaan adalah membuat karyawan mereka “tidak puas” sehingga akan mendorong perilaku untuk mencapai target. Orang yang bahagia dianggap cepat puas dan kurang bersemangat dalam mencapai prestasi. Menurut saya, pemimpin seperti ini telah mengacaukan arti kebahagiaan dan kenyamanan. Orang yang nyaman mungkin tidak akan berprestasi karena mereka telah puas, aman dan sejahtera dalam posisi mereka saat ini. Akan tetapi, orang yang berbahagia justru akan terdorong mengeluarkan energi dan kemampuan terbaiknya untuk mencapai prestasi yang semaksimal mungkin.

Namun, saya kira dalam 5-10 tahun ke depan tren happiness sebagai faktor terpenting kesuksesan di tempat kerja akan segera memasuki perusahaan-perusahaan di Indonesia. Ini bukan hanya didorong oleh berbagai penelitian yang dilakukan di AS, tetapi juga adanya pencarian setiap perusahaan pada faktor penentu kesuksesan. Setelah mengalami berbagai konsep besar semacam Balance Scorecard, Six Sigma, Talent Management dan Knowledge Management, semua pelaku bisnis akan – tanpa disadari – kembali ke sesuatu yang sangat mendasar: kebahagiaan. Karena, bukankah pencarian terbesar manusia di dunia ini tak lain dan tak bukan adalah pencarian kebahagiaan?(***)

 

Penulis adalah Arvan Pradiansyah, Direktur Pengelola ILM & penulis buku I Love Monday

Follow : @arvanpra

Facebook FP : Arvan Pradinsyah